TULISAN
REFERENSI CERPEN
KITA BEDA
Karya: Sugesty Nurchadjati
Selesai salat Jumat, aku kembali menuju sekolah. Di sekolah memang
tidak ada masjid, hanya musala saja. Tapi, bagiku semuanya sama. Soal
tempat tidak penting, yang terpenting adalah keadaan kita menghadap
Allah.
Ponselku berdering beberapa kali. Ada sebuah panggilan masuk dari
Putu, temanku yang satu itu memang bukan seorang muslim, tapi ia selalu
menghargai ibadahku bahkan kami sering mengingatkan satu sama lain.
Siapa pun berhak memeluk agama sesuai dengan keyakinan hatinya bukan?
Tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kejahatan. Aku yakin semua
agama baik. Tergantung manusianya sendiri.
“Iya Put, aku lagi jalan mau ke sekolah. Baru juga selesai salat.
Emang udah ada guru?” tanyaku setengah berlari menuju sekolah yang
berjarak 200 meter dari masjid. Memang cukup dekat namun tetap saja
membuatku berkeringat.
“Iya, buru Dam. Nggak tahu nih, Bu Yolanda datengnya cepet banget!” ujar
Putu dengan diikuti suara riuh siswa-siswi yang masuk kelas.
“Ya udah, saya bentar lagi nyampe. Kamu duluan saja Put!” sahutku.
Bertepatan dengan itu, aku segera menutup ponsel dan menyebrang.
Bruk!! Sesuatu menabrakku. Sebuah sepeda jatuh tepat di depanku. Aku
segera membangunkan sepeda sekaligus pemilik sepedanya. Untungnya kakiku
hanya lecet dan baik-baik saja. Aku menepuk celana putih abu-abu yang
nampak kotor.
“Sori, sori!” ucap gadis yang menabrakku itu dengan spontan. Wajahnya
cerah, matanya indah dan bersinar. Ia menundukkan setengah tubuhnya
memohon maaf. Aku bingung dan berusaha membuatnya tenang.
“Iya gak papa. Lain kali hati-hati, Mbak!” sahutku mencoba tenang.
Beberapa kali aku menepuk-nepuk celana panjangku yang kotor karena roda
sepeda yang tampak berdebu dan kotor, mungkin ia memakainya di pasar.
“Sekali lagi maaf Mas. Saya tanggungjawab kok. Mas pulang sekolah jam
berapa?” tanyanya kemudian. Aku tidak bisa menolak ucapannya apalagi aku
sedang terburu-buru masuk kelas.
Aku meliriknya sebentar kemudian melanjutkan lariku.
“Jam empat” sahutku sambil berlari walaupun dengan kaki
terpincang-pincang. Aku tak lagi memerhatikannya. Aku fokus menatap
jalan dan masuk kelas. Bu Yolanda dan teman-teman menungguku.
Suara teriakannya samar-samar. Namun, aku yakin pendengaranku tidak
salah. Kalau jam empat sore nanti dia akan menungguku pulang sekolah.
Entah apa yang membuatku merasa gugup. Jantungku berdetak lebih
cepat, peluh menetes deras. Ya, gadis bermata indah itu sudah menungguku
di halte sekolah. Aku duduk tepat di sebelahnya. Sangat dekat.
“Namaku Elina, kamu?” gadis itu masih setia dalam sebuah senyum manis.
Subhanallah. Dia amat cute dengan lesung pipi cekungnya. Matanya yang
indah seakan terus membawaku ke dalam dunia yang lain. Seakan-akan dia
menghipnotisku, namun aku masih sadar. Wajah cute dan mata indah nan
teduh itu membuatku aman untuk detik-detik ini.
“Adam!” aku menjabat tangannya.
“Maaf ya soal tadi siang. Aku buru-buru. Soalnya aku khawatir sama
keadaan Kakek di rumah” ujarnya lemah. Ia tak bersemangat seperti
sebelumnya.
“Kakek kamu kenapa?” tanyaku serius. Ia hanya tersenyum.
Beberapa menit kami dalam diam. Aku tidak biasa mengobrol dengan orang
asing, terlebih ia seorang perempuan. Entah apa yang membuat pribadiku
tidak seberani ini. Padahal, aku sebagai ketua OSIS terbiasa bicara di
depan orang banyak. Tapi, berbeda dengan situasiku saat ini, aku masih
tidak tahu apa sebabnya.
“Oh iya, janji saya waktu tadi siang, kan, mau tanggungjawab. Saya
traktir kamu makan deh, yang penting kamu maafin saya!” ucapnya ramah.
Ramah seperti beberapa waktu ketika dia menabrakku dengan sepedanya.
“Nggak usah, saya nggak apa-apa kok.”
“Rezeki nggak boleh ditolak, loh. Kamu nggak sibuk kan? Ikut saya yuk!”
Elina begitu antusias. Mata indahnya berhasil membuatku menuruti
kata-katanya. Ya, kali ini dia sedang menghipnotisku dalam keadaan
sadar. Genius!
“Naik sepeda?” tanyaku memastikan. Ia mengangguk. “Saya nggak bisa nyetir sepeda” ujarku terbata-bata. Sungguh. Memalukan.
“Yaudah, kamu duduk di belakang” tegasnya. Aku menurut saja.
Wanita berambut kemerahan sebahu itu tampak semangat mengayuh sepedanya.
Sebenarnya aku tidak tega melihat ia sengotot itu membawaku di kursi
boncengannya. Namun, aku masih dalam hypno-nya. Rasanya nyaman di
dekatnya.
Kami sudah tiba di sebuah kedai wedang jahe. Cuaca kota Jogja sore
ini memang cukup dingin. Tidak ada salahnya aku memesan secangkir wedang
jahe hangat. Elina duduk tepat di hadapanku. Bibir merah mudanya masih
dalam senyum lebar.
“Sori, aku cuma bisa traktir ini. Kamu suka wedang jahe, kan?” tanyanya
kemudian. Tatapannya tidak beranjak dariku sedikit pun. Aku gugup.
“Saya baru pertama kali minum wedang jahe” sahutku jujur. Aku memang
tidak suka pedas, juga orangtuaku memang tidak membiasakanku dengan
makanan atau minuman pedas. Nyaris semua menu di rumah adalah manis dan
asam, tidak ada pedas. Sejak kecil aku tidak suka pedas. Hingga
sekarang, mungkin.
“Baru pertama kali? Kamu bukan orang Jogja asli ya?” tanyanya lagi. Aku
hanya tersenyum. Ia pun membalas senyumku. “Wedang jahe enak loh, ada
manis, ada pedas dan hangat di tenggorokan. Pasti kamu suka!” ia
meyakinkanku. Aku kembali tersenyum.
Elina memberi segelas wedang jahe milikku. Ia meneguk miliknya. Minuman yang aneh dan membuat kerongkonganku perih. Pedas!
Ternyata ucapannya salah. Justru aku kepedasan karena wedang jahe.
Aku tidak menyukainya. Elina terus-terusan mengejekku di perjalanan. Ia
masih mengayuh sepeda tanpa lelah. Hingga tak terasa adzan Maghrib sudah
berkumandang.
“Kamu lucu Dam. Masa segitu aja kepedasan! Oh ya, rumah kamu dimana? Aku
antar ya!” ujar Elina masih menyetir sepeda mininya. Sesekali ia
menoleh ke arahku. Ia masih tersenyum tanpa menurunkan semangat sesore
itu.
“Rumahku jauh, sekitar 2 kilo dari sini!” jawabku.
“Itu sih deket, Dam. Aku udah biasa bersepeda lebih dari 20 kilo setiap
hari. Santai aja. Aku antar ya?” tegasnya. Gadis periang itu masih kuat
memboncengku.
“Kita berhenti dulu ya. Ini waktunya Maghrib. Kamu salat?” tanyaku.
Tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Ia hanya menunjukkan
kalung salib yang sejak tadi tidak kuperhatikan. “Oh, maaf Lin. Yaudah,
aku salat dulu ya. 15 menit, nggak apa-apa, kan?” tanyaku untuk kedua
kalinya. Dia mengangguk sambil diikuti senyum yang merekah. Senyum itu
tidak putus darinya.
Selesai salat maghrib, kami melanjutkan perjalanan. Aku tidak terlalu
banyak bicara, hanya Elina yang bercerita banyak tentang sebagian
sejarah kota Jogja. Kota Jogja yang terkenal dengan kesultanan dan
keningratannya, kota Jogja yang pernah menjadi ibukota sementara
Indonesia dan kota Jogja sebagai kota wisata yang terkenal dengan
adat-istiadat yang kental sekaligus dengan orang-orangnya yang ramah.
“Kakekku seorang Veteran. Tapi, jasanya nggak dianggap sama negara.
Kakek yang sakit-sakitan nggak pernah dapet sumbangan atau apapun. Saya
sih nggak terlalu banyak berharap supaya kakek diberi materil, tapi
cukup pengakuan atau dedikasi, nggak sama sekali! Bukannya negara besar
adalah negara yang menghargai jasa pahlawannya? Tapi, boro-boro!” ujar
Elina. Sedari tadi aku hanya menjadi pendengar yang baik dan kurasa aku
pun harus tetap menjadi pendengar yang baik. “Oh ya, rumah kamu dimana?”
tanya Elina tiba-tiba. Aku jadi ingat sesuatu. Kenapa aku bisa lupa
rumahku sendiri? Akhirnya aku tersadar.
“Kelewat Lin, rumah yang hijau, tuh!” aku langsung turun dari boncengan
Elina. Elina mendorong sepedanya hingga masuk ke halaman rumahku.
Aku baru dua tahun tinggal di Jogja. Tidak semua lingkungan Jogja aku
ketahui. Dan, sejak aku mengenal Elina. Ia seperti pemandu wisata yang
sangat tahu tentang Jogja. Ia membuatku sadar, betapa hebatnya kota
bersejarah ini.
“Masuk Lin!” ujarku. Elina melangkah masuk dan langsung menjabat tangan
Bunda dan Ayah yang sedang mengobrol di ruang tamu. “Yah, Bun. Ini
Elina. Lin, saya mandi dulu, ya!” ujarku sembari meninggalkan ketiganya
mengobrol-ngobrol.
Dua puluh menit. Aku selesai mandi sekaligus selesai salat Isya.
Waktu yang cukup lama meninggalkan Elina dengan kedua orangtuaku. Aku
tidak khawatir, Elina sebagai gadis yang periang dan supel pasti cepat
akrab dengan ayah dan bundaku.
“Saya tinggal berdua dengan kakek, Bu, Pak” aku mendengar sekilas
percakapan Elina dengan Bunda dan Ayah. Aku langsung duduk di sebelah
Ayah.
“Ngobrolin apa sih, kayaknya seru gitu?” tanyaku sekedar basa-basi.
Elina begitu cepat akrab dengan kedua orangtuaku. Ada sebuah nilai lebih
untuknya. Ya, gadis itu memang unik dan sangat ramah. Wajar saja cepat
akrab.
Tok, tok. Suara pintu diketuk. Afifah, adikku masuk rumah. Menyalami
Bunda, Ayah, aku dan Elina. Ia biasa mengaji di mushala dekat komplek.
Elina tidak merasa terganggu dengan keluargaku yang lumayan agamis.
“Ini Afifah, adiknya Adam” ujar Bunda ramah.
“Hai sayang, aku Elina” ujar Elina sembari mengusap jilbab Afifah.
Afifah mencium punggung tangan Elina. Aku, ayah dan bunda hanya diam dan
memerhatikan sikap ramah Elina pada Afifah. Wanita sederhana itu begitu
menarik dan membuatku kagum padanya. Namun, ada rasa lain di dalam
kekagumanku.
“Mas Adam pertama kali bawa temen perempuan ke rumah, loh, pasti Mbak
Elina pacarnya Mas Adam ya?” ujar Afifah spontan. Gadis berusia 8 tahun
itu memang selalu bicara seenaknya. Elina hanya tersenyum ramah
menanggapinya.
“Ngaco kamu, Mbak Elina ini teman Mas!” ralatku.
Bunda dan Ayah hanya tersenyum. Aku dan Elina keluar rumah, Elina tidak
perlu diantar, ia sudah tahu betul jalanan Jogja. Lagipula ia sudah
terbiasa dengan udara Jogja yang dingin di malam hari, begitu katanya.
Sepeda mini putih itu sudah menjauh, begitu pula punggung kecil Elina.
Ia tak nampak lagi, lampu-lampu temaram memakan bayangan Elina dengan
sepedanya.
Aku kembali masuk rumah yang dua tahun belakang menjadi rumah dengan
berjuta-juta sejarah. Dulu, kami sekeluarga tinggal di Sleman dan karena
Ayah dimutasi ke Jogja, akhirnya kami sekeluarga pindah di kota cantik
yang sering disebut spirit van Java ini. Baru aku masuk, Bunda dan Ayah
menatapku aneh. Afifah menunduk.
“Kamu nggak pacaran sama Elina, kan?” tanya Bunda tiba-tiba. Aku mengeryit.
“Maksud Bunda?” tanyaku bingung.
“Dia bukan Muslim, Dam” tambah Ayah. Aku mengerti sekarang. Afifah
menatap kami bertiga bingung. “Dede, masuk kamar ya, udah malam. Tidur!”
ujar Ayah menyuruh Afifah keluar dari obrolan kami. Afifah menurut.
Setelah Afifah benar-benar masuk kamar, kami melanjutkan obrolan.
“Bun, Yah, aku sama Elina cuma teman. Kenapa curiga gitu sih? Ayah kenal
Putu, kan? Dia juga bukan Muslim, Ayah nggak pernah larang aku
bersahabat dengan dia, kan?” ujarku menjelaskan. Bunda tersenyum, tapi
tidak untuk Ayah.
“Putu laki-laki. Elina? Dia perempuan, cantik, ceria sekaligus ramah.
Gimana kalau kamu tiba-tiba suka sama dia?” ujar ayah dengan dengan
penekanan.
“Nggak Yah, aku tahu kok, Yah” ujarku menenangkan kedua sosok yang aku
sayang itu. Bunda tersenyum. Dua orangtua itu terlalu mengkhawatirkanku.
“Bunda percaya sama Adam” ujar bunda kemudian. Aku tersenyum begitu pula ayah yang selalu keras namun perhatian.
Aku turun dari bus Trans-Jogja, beberapa siswa yang satu SMA denganku
pun berhamburan keluar dari bus. Semua mempercepat langkah tak ingin
terlambat masuk kelas. Begitu pula aku.
Baru saja aku melangkahkan kaki di halte bus, Putu menghampiriku. Tumben sekali ia tidak menggunakan motor.
“Tumben nggak bawa motor, kemana motor kamu Put?” tanyaku sekaligus beriringan masuk sekolah dengannya.
“Bengkel, Dam. Siang, kamu anterin aku ambil motor, ya. Nanti saya antar
pulang!” ujar Putu sembari merangkulku. Badannya yang tinggi memang
mudah merangkulku, tidak untukku. Aku sulit merangkul sahabatku itu.
Kami sudah masuk koridor-koridor kelas. Beberapa teman kelas serobotan masuk kelas. Alasan yang sejalan denganku dan Putu.
“Yaelah, kayak sama siapa aja. Iya, saya antar!” tegasku. “Put, Bu
Yolanda!” teriakku mendapati guru killer itu masuk kelasku. Aku dan Putu
langsung berlari cepat.
Bel sekolah berbunyi. Hari Sabtu adalah hari weekend, sekolahku
dibubarkan jam 11. Sesuai janjiku dengan Putu, aku mengantarnya ke
bengkel. Sayangnya, motornya belum selesai dibereskan. Sembari menunggu,
aku menuju musala terdekat dan salat dzuhur meninggalkan Putu yang
setia menunggu di bengkel.
Kulirik arlojiku. 12.10. Segera kutemui Putu. Di bengkel sudah tidak ada Putu. Kemana dia? Kenapa dia meninggalkanku? Ya, ampun.
Putu Wijaya: Sy tunggu kmu di rmhku. Dket kok dari situ. Jl Semeru no.3.
Sahabatku yang satu itu memang hobi mengerjaiku. Aku memang pernah
datang ke rumah Putu, tapi aku tidak tahu rumahnya kali ini. Putu punya
dua rumah yang letaknya beda. Dan, aku harus mendatangi rumahnya yang
tidak kuketahui.
Jalan Semeru. Sebuah papan jalan kubaca. Namun, pandanganku terhenti.
Bukan pada Putu atau rumahnya yang mewah. Tapi, pada seorang gadis yang
sabtu kemarin kukenal. Elina sedang mendorong kursi roda, mungkin itu
kakeknya yang pernah ia ceritakan akhir pekan kemarin. Tepat seminggu
pertemuanku dengannya. Ini kedua kalinya aku bertemu dengan Elina lagi.
“Elina” panggilku. Benar, dia Elina, dia menoleh ke arahku.
“Hai, Dam. Kok bisa sampai sini. Oh ya, kenalkan, ini kakekku!” ujarnya
ramah. Elina terlihat murung, tidak seperti pertama kali kutemui.
“Halo, kek. Saya, Adam” ujarku ramah, aku menjabat tangannya yang lemas,
keriput dimana-mana. Pria yang usianya lebih dari tiga perempat abad
itu tersenyum padaku. Deretan giginya yang ompong terlihat jelas.
“Dam!” seseorang memanggilku. Suara Putu.
“Lin, saya duluan ya. Kek, saya pamit” ujarku sembari berlari menemui Putu.
Rumah khas Jogja tepat di hadapanku. Putu disana. Tidak seramai dengan
rumahnya yang di belakang Malioboro. Justru rumah ini sangat jauh dari
ramai. Putu duduk di sebelah seorang lelaki tua yang usianya mungkin
sebaya dengan kakek Elina.
“Dam, kenalin. Kakek saya!” ujar Putu. Tapi, ada sebuah kejanggalan.
Putu pernah bilang kalau dia tidak punya kakek atau nenek, kedua kakek
dan satu orang neneknya sudah meninggal dunia. Dan, satu neneknya
tinggal di Singaraja, Bali. Ini?
“Kek, saya Adam” ujarku ramah. Aku melirik Putu, meminta penjelasan.
“Ini Kakek Yusuf, yang pernah menolong saya. Beliau tidak punya isteri
atau anak, sebagai Veteran, dia juga tidak dilihat pemerintah, makanya
saya menjaga dia. Setiap tiga kali seminggu saya datang menengok kakek
Yusuf!” ujar Putu.
Subhanallah. Sahabatku yang kadang menyebalkan itu ternyata hebat.
Banyak pelajaran yang bisa aku ambil dari Putu juga dari beberapa
muda-mudi yang menjaga dan memerhatikan orang-orang Veteran di tempat
ini.
Setiap hari selasa, kamis dan sabtu aku selalu mengantar Putu
menjenguk kakek Yusuf. Dan, tiga hari dalam seminggu itu pula aku
menemui Elina. Bertanya banyak tentang beberapa Veteran yang tinggal
disana. Sekaligus mengakrabkan diri dengan Veteran dan Elina tentunya.
Entah mengapa rasa kagum pada gadis itu muncul. Elina memang dua
tahun lebih tua dariku. Ia kuliah sekaligus kerja sebagai guru les
Matematika. Dengan uang yang ia dapat, ia selalu memberikan sebagian
untuk Veteran yang ada di desa itu, dan sisanya untuk menabung dan biaya
makan sehari-hari. Sebagai gadis yang cerdas ia mendapat beasiswa full
untuk kuliahnya. Bukan hanya Putu, Elina pun memberikan pelajaran yang
berharga bagiku. Mereka hebat!
Seperti Putu, Elina pun bukan cucu kandung kakeknya. Elina tidak tahu
siapa orangtuanya. Sejak bayi, Elina tinggal di panti asuhan dan ketika
berusia 4 tahun, ia dirawat oleh kakeknya dengan kasih sayang yang
berlimpah. Oleh karena itu pula, ia sangat sayang pada kakeknya
sekaligus menjadi gadis yang tegar dan hebat.
Elina dan Putu memberi banyak pelajaran untukku. Semakin sering aku
mengunjungi desa Veteran ini, aku pun menjadi bertambah kagum pada
keduanya. Namun, rasa kagum pada Elina berbeda. Rasa yang selama ini
orangtuaku takutkan. Begitu pula aku, aku sangat takut ini terjadi.
Putu sudah menghilang dengan sepeda motornya. Sedangkan Elina
mengantarku pulang. Gadis itu mengayuh sepedanya dengan ceria. Jiwa yang
kelihatannya kuat itu ternyata sangat rapuh. Ya, sangat sangat rapuh.
“Elina” ujarku dengan nada rendah. Ternyata dia mendengarnya.
“Iya, Dam. Kenapa?” sahutnya. Ia menoleh sekilas, kemudian kembali pada
jalanan yang ia lewati. Laju sepedanya tidak terlalu cepat, mungkin ia
sengaja memperlambat karena memberi kesempatan untukku berbicara.
Semilir angin malam masuk ke kaus tipisku. Aku selalu membawa ganti
kalau datang ke desa ini, sekaligus tidak ingin mengotori seragam
sekolahku. Setidaknya aku mengurangi beban bunda yang selalu mencuci
pakaianku.
“Saya kagum sama kamu” ujarku kemudian. Ia terdiam, kemudian menjawab.
“Saya juga kagum sama kamu” ujarnya. “Kamu bersedia bantu saya sama
Putu. Padahal kamu, kan, nggak mengenal mereka. Kalau aku tidak dirawat
oleh kakek waktu kecil, mungkin aku tidak akan merawat Veteran sampai
sekarang. Mungkin Putu pun demikian, sebagai pembalasan budi saja, lah”
lanjutnya menjelaskan.
Aku terdiam. Bukan tentang yang dijelaskan Elina. Tapi, tentang
perasaanku padanya. Tentang rasa yang terlarang. Tentang rasa yang
selama ini aku takutkan.
“Saya suka sama kamu, Lin” ujarku memberanikan diri.
Tiba-tiba saja ia menepikan sepedanya. Aku tahu, kata-kataku salah. Aku
dan dia sama-sama terdiam beberapa menit. Aku menunduk. Kuperhatikan ia
menghela napas lelah, kemudian mengayuh sepedanya lagi.
“Mana boleh kamu suka sama saya Dam. Kamu ada-ada saja!” ujarnya. Ia
kembali mengayuh sepeda dengan lambat. Aku tidak berkata sepatah kata
pun, kurasa dia pun demikian. Kami dalam kecanggungan.
Elina selesai mengantarku. Aku turun. Tanpa pamit Elina langsung
pergi. Tidak seperti biasanya yang ia secuek itu padaku. Aku sadar, aku
salah. Salah dan sangat salah.
Hari ini hari Selasa. Berarti, aku dan Putu harus menengok desa Veteran. Namun, apa aku siap bertemu dengan Elina? Kurasa tidak.
Aku sudah bilang pada kedua orangtuaku kalau setiap selasa, kamis dan
sabtu aku selalu mendatangi desa Veteran, ayah dan bunda sangat
mengizinkan. Tidak butuh waktu tiga puluh menit, kami sampai di Jalan
Semeru. Tempat dimana Veteran tinggal.
Elina seperti menjauhiku. Itu lebih baik.
Beberapa kali aku mencoba mengajaknya bicara, namun ia tetap menjauhiku.
Ia hanya membuka diri dengan Veteran juga Putu. Hanya Putu yang ia ajak
berbicara sekaligus bercanda. Menyesakkan.
Keesokan harinya, aku turun dari bus. Aku masuk gerbang sekolah.
Sebagai ketua OSIS aku memang harus mencontohkan sikap yang benar. Aku
memang tidak pernah telat masuk sekolah. Itu salah satu contoh sikap
baikku, entah yang lainnya. Yang menilai diriku bukan aku, tapi
oranglain.
Seseorang menepuk pundakku. Putu. Ya, siapa lagi?
“Kemarin kamu nggak pulang diantar Elina?” tanya Putu tiba-tiba. Aku menggeleng. Ia melipat kedua tangannya di dada.
“Kemarin naik becak, kenapa gitu?” sahutku santai.
Putu tidak menjawab, ia hanya mengerlingkan mata jahilnya pada beberapa
siswa perempuan yang melintas. Aku bingung, pria tampan satu itu
memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi, namun untuk soal percintaan ia
selalu main-main, setidaknya tidak seperti dulu-dulu yang punya banyak
pacar. Sekarang ia hanya punya tiga orang pacar, entah sebelumnya. Tiga
orang pacar? Mana bisa.
“Sekarang pelajaran Bu Yolanda bukan sih, Dam?” tanya Putu sambil
mencari-cari sesuatu dari tasnya. Aku hanya menjawab dengan dehaman.
“Yah, Dam. Buku tulis Fisika saya nggak tahu kemana, bisa-bisa dihukum
nih!” gerutu Putu.
“Yaelah, Put. Buku tulis Fisika, kan, dikumpulin. Ada-ada saja kamu!”
sahutku sambil cekikikan melihat wajah Putu yang sudah cemas. Putu
memang langganan hukuman.
“Astaga! Iya, ya. Saya sampai lupa, mungkin karena sering dapat hukuman,
jadi gini deh” Putu menyengir. Tiba-tiba ia mengambil sebuah amplop
berwarna biru muda dari tasnya. “Oh ya, Dam. Saya baru inget, Elina
nitip ini!” Putu memberiku amplop itu. Tertulis, Buat Adam, dari Elina
Selena.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku langsung menerimanya dan berlalu.
Bolehlah aku telat masuk kelas, lagipula pelajaran pertama bukan
pelajaran si guru killer, Bu Yolanda. Aku berlari menuju toilet,
meninggalkan Putu yang sibuk memasukkan buku-buku yang tadi ia keluarkan
ketika mengecek buku tulis Fisika.
Pertama aku melihatmu, wajahmu bersinar..
Kedua kali aku melihatmu, wajahmu masih bersinar..
Ketiga kali aku melihatmu, wajahmu tetap dalam sinar keindahan..
Keempat kali dan selanjutnya, melihatmu membuatku candu..
Kamu tahu, aku pun tahu..
Ini bukan tentang cinta yang harus diperjuangkan..
Ini tentang hal yang tidak bisa terpautkan..
Kita tidak bisa menyatu..
Aku mengagumimu sebagai Adam yang Tuhan cipta..
Kadang aku bertanya-tanya, mengapa kita dalam beda?
Mengapa kita tidak bisa mendapat cinta yang sempurna seperti lainnya?
Ahh.. Pertanyaan bodoh!!
Tetaplah dalam sinarmu..
Seperti yang kamu tahu,
Adam milik Hawa
Kumbang milik Bunga
Romeo milik Juliet
Aku tidak akan menjadi milikmu
Karena, Tuhan telah menciptakan seseorang untukmu, disana..
Tetap dalam tasbihmu, memuja Tuhan-Mu
Dan aku akan setia dalam Rosarioku..
Aku melipat kembali kertas itu, memasukkannya ke dalam amplop. Aku
harus kembali ke kelas. Kelas XI IPA 3. Kelas yang akan membuatku
melupakan segala tentang Elina dan segala perbedaan kami. Bukan cinta
yang harus diperjuangkan. Ya, tak ada alasan untuk memperjuangkannya.
Karena, kita beda.
“Kemana aja kamu? Kok ngilang?” tanya Putu tengah duduk manis. Pak
Alfan memang selalu ngaret masuk kelas. Dan, aku tidak telat. Akhirnya.
“Nih” aku menunjukkan amplop biru yang kukantongi.
Beberapa hari ini aku tidak ikut ke desa Veteran bersama Putu. Aku hanya
menitip salam pada kakek Yusuf dan Veteran yang lainnya. Aku harus
menenangkan diri untuk beberapa saat. Kuharap aku bisa menerima semua
ini, seperti yang pernah kujanjikan pada ayah dan bunda sewaktu Elina
mampir ke rumahku untuk pertamakalinya.
Dan. Seminggu adalah waktu yang tepat. Aku mulai ikut bakti sosial
bersama Putu dan Elina lagi. Yang membuatku tenang adalah satu. Elina
tidak menjauh seperti sebelum-sebelumnya. Kini, kenyataan di depanku.
Sangat nyata bahwa aku dan Elina bukan orang yang ditakdirkan untuk
berpasangan.
Kabar dari panti asuhan yang pernah Elina tinggali, bahwa Elina masih
mempunyai seorang ayah. Ceritanya menyedihkan. Ayahnya terpaksa
menitipkan Elina ke panti asuhan karena ibu Elina menderita kelainan
jiwa. Ayahnya tidak mungkin mengurus Ibu Elina sekaligus Elina. Dan
selama sepuluh tahun pengobatan akhirnya ibu Elina sembuh. Mereka
kembali dalam kehidupan sempurna. Elina pantas mendapatkan itu. Elina
yang dari keluarga kaya raya akan membuka sebuah panti jompo untuk
Veteran yang selama ini Elina, aku, Putu dan beberapa muda-mudi rawat.
Subhanallah.
Aku bangga mempunyai sahabat seperti Putu sekaligus seperti Elina.
Setidaknya dengan hal yang aku alami, aku tahu satu hal. Belajar bukan
hanya dari buku yang tebal tetapi dengan kisah dan sikap istimewa orang
lain, khususnya di sekitar kita.
Allah selalu mempermudah apa yang kita pinta.
Diambil dari sumber: http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/kita-beda.html
Cerpen diatas memiliki pengertian dan berisi nasehat bahwa setiap orang harus selalu bertoleransi kepada siapapun. Contohnya seperti yang ada di cerpen diatas. Bertoleransi dan menghargai kepercayaan yang dimiliki oleh orang lain, bahwa berteman itu tidak perlu mempermasalahkan keyakinan seseorang atau suku orang tersebut. Karena dengen perbedaan tersebut kita dapat bersatu dan melengkapi kekurangan satu sama lain. Di Indonesia banyak sekali beragam Suku, Ras, Agama maka dari itu budaya bertolerensi harus kita lakukan agar tetap terjaga kedamaian para umat manusia. Seperti semboyan negara Indonesia yaitu BHINEKA TUNGGAL IKA yang berarti Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar