Senin, 20 Oktober 2014

TULISAN


You’re My One and Only   

Karya: Kartika Dwi Cahyanti

            Jam sudah menunjukan pukul 6.45 namun Bianca masih sibuk bersiap-siap. Pagi ini dia terlambat bangun karena semalam menonton acara kesukaannya.
            “Ma, Pa, Ica berangkat dulu ya.”
“Lho kok ga sarapan dulu?”
“Udah telat banget nih Ma. Nanti sarapan di sekolah deh.”
“Makanya jangan keasikan nonton tv sampai larut, kesiangan kan.”
“Ehehehe, abis nanggung sih Pa. Yaudah Ica berangkat dulu ya.”
Bianca segera berlari keluar rumah menuju pangkalan ojek di dekat rumahnya. Namun pangkalan ojek itu sepi, sepertinya Bianca memang sangat terlambat.
“Argh, pake acara ga ada ojek. Masa naik angkot sih? Nyampe jam berapa ntar?” Bianca melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 6.50. Dengan kesal Bianca berjalan cepat menuju halte yang lumayan jauh dari rumahnya.
“Eh telat juga lo? Mau bareng ga?”
“Firza?! Maulah. Lo malaikat penyelamat gue Za,” Bianca terlihat sangat senang melihat cowok di sebelahnya.
“Lebay lu ah. Yaudah buru kalo mau bareng, ntar telat.”
“Ahahaha, iya iya.”
“Pegangan yang kuat yak. Gue ngebut nih.”
“Iye bawel. Udah cepet jalan.”
“Yeuh udah nebeng pake acara ngatain lagi. Gue turunin lo.”
“Hehehe, maap maap.”
Firza langsung memacu motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Reflek Bianca memeluk pinggang Firza sambil menyenderkan kepalanya. Firza tersenyum jahat merasakan cewek di belakangnya sedikit ketakutan, dan terus memacu motornya dengan kecepatan  yang lebih tinggi. Karena Firza tahu Bianca paling takut nailk motor dengan kecepatan tinggi.

Firza dan Bianca memang sudah bersahabat dari kecil. Mungkin karena rumah mereka yang berdekatan dan orang tua mereka yang juga sudah saling kenal semenjak SMA. Jadi otomatis anak mereka pun bersahabat.
Tidak sampai 10 menit mereka sudah berada di depan sekolah. Walaupun jarak sekolah dan rumah mereka cukup jauh, tapi itu tidak berarti apa-apa jika sudah terlambat.
“Mau sampe kapan lo meluk gue Ca?”
Bianca yang sadar kalau sudah sampai langsung melepaskan pelukannya dan menegakan tubuhnya.
“Ahahahaha, demen banget kayaknya meluk gue.”
“Dih? Ga sudi! Itu gara-gara lo ngebut aja makanya gue reflek meluk.”
“Spik aja dulu wkwk.”
“Ish serah lu dah, gue ke kelas duluan ya~ dadah Firza makasih tebengannya,” Bianca langsung berlalri begitu memasuki halaman sekolah. Sementara Firza hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu.
“Haahh, akhirnya nyampe juga.”
“Abis dari mana lo Ca? Cape banget kayaknya,” tanya Lina—teman sebangku Bianca—begitu Bianca duduk di kursinya.
“Gue telat bangun. Biasa, lo tau lah gue ngapain.”
“Yeuh, biasaan lo. Udah tau masuk sekolah masih aja begadang nonton begituan ckck.”
“Ehehehe, abis gimana lagi? Lagi seru-serunya tuh.”
“Iya dah iya suka suka lo. Pr udahan belom?”
“Udahan dong~ kalo belom ga berani gue dateng mempet kayak gini. Hahaha.”






Bel istirahat pun berbunyi, hampir semua anak di kelas Bianca keluar untuk menyerbu kantin. Termasuk Clara dan teman-temannya. Mereka adalah cewek-cewek terpopuler di SMA Budhi Bhakti. Tapi tetap, yang paling populer adalah Clara. Walaupun cantik, tapi tak banyak yang menyukai sifatnya. Kecuali para cowok. Karena Clara membedakan sifatnya terhadap cowok dan cewek. Dia bisa jadi sangat amat ramah terhadap cowok yang baru dikenalnya, namun bisa sangat jahat pada cewek yang sudah menjadi teman baiknya.
Bianca dan Lina yang sudah sangat hafal kalau kantin pasti penuh hanya mengobrol-ngobrol di bangku mereka, sesekali mereka tertawa melihat tingkah laku teman mereka yang aneh-aneh dan tidak tahu malu.
“Eh Ca, ga ke kantin lo?”
“Ga Za males. Lo ngapain ke kelas gue mulu?”
“Tau, agak-agak mencurigakan nih.”
“Yeuh apaan sih lo berdua. Emang gue ga boleh apa ke kelas sahabat gue sendiri.”
“Ah! Boong, pasti ada maunya kan lo?”
“Ehehe, tau aja Lina.”
“Tuh kan Ca! Apa gue bilang. Sahabat lo yang satu ini perlu dicurigain.”
“Emang gue maling apa perlu dicurigain.”
“Ahahaha, emang lo mau apa sih Za?”
“Kenalin gue sama Clara dong.”
“Eeett,” kompak Lina dan Bianca menoleh dan menepuk dahi masing-masing.
“Lah? Kenapa emang?”
“Ternyata lo sama aja ya kayak cowok lain, gue kira lo beda Za ckck.”
“Dih? Emang ada apaan sih Lin?”
“Ga kok, gapapa,” ujar Lina sambil menoleh pada Bianca dengan pandangan yang agak prihatin. Sementara Bianca yang menyadari pandangan Lina buru-buru mengalihkan pembicaraan sebelum Firza menyadarinya.


“Lo kalo mau kenalan ya usaha sendirilah Za, masa minta bantuan gue.”
“Yah Ca, lo kan sahabat gue. Bantuin lah.”
“Ogah ah, kenalan bae sendiri. Lin, anterin gue ke kamar mandi yuk.”
“Ayuk dah.”
“Yah..yah.. lo berdua mau kemana?” Firza yang kebingungan malah mengikuti kedua gadis itu keluar kelas. Namun saat di depan pintu dia hampir menabrak Clara.
“Eh.. Clara... maap maap.”
“Iya... gapapa kok Za,” ujarnya sambil tersenyum.
“Za? Kok lo tau nama gue?”
“Tau lah, lo sahabatnya Bianca kan? Gue sering denger nama lo kali.”
“Oh hehehe.”
“Gue masuk dulu ya Za.”
“Eh, iya silahkan Ra,” ujar Firza sambil memberi jalan.
Clara hanya tersenyum dan masuk ke kelasnya. Firza yang mendapat senyuman dari Clara senang bukan main. Sementara itu jauh di depannya, Bianca terlihat sedih, dan terlihat Lina mencoba menghibur sahabatnya itu.
Hari demi hari Firza makin sering ke kelas Bianca. Bukan untuk menemui Bianca tapi menemui Clara. Ya, Firza dan Clara semakin dekat. Mereka sering mengobrol bersama di kelas, makan di kantin bersama, pulang sekolah bersama, jalan bersama, dan masih banyak lagi kegiatan yang mereka lakukan bersama. Tak jarang Firza menemui Bianca malam hari setelah jalan dengan Clara untuk menceritakan kedekatannya dengan Clara dan meminta saran untuk lebih dekat dengan Clara. Bianca sebisa mungkin menutupi kekecewaannya dengan senyuman. Dan Firza sama sekali tidak menyadari perubahan raut muka Bianca.
“Lin, keluar aja yuk.”
Lina menoleh ke belakang, dan dia mengerti. Lina mengangguk dan menggandeng Bianca keluar kelas, menuju taman sekolah mereka.
“Sabar ya Ca...”
“Iya Lin, udah sabar banget,” dipaksakan bibirnya untuk tersenyum. “Apa mendingan gue jauhin si Firza aja ya? Biar ga makin nyesek.”
“Serius lo bisa? Dia kan sahabat lo dari kecil banget. Pasti dia nyadar lah.”
“Iya sih, tapi dari pada gue nyesek Lin? Mending sekalian gue dingin sama dia. Siapa tahu bisa ilang perasaan gue. Atau gue terima aja tawaran bokap.”
“Tawaran apa?”
“Sekolah di Ausie.”
“HA? Serius lo?!”
“Iya, waktu itu gue ditawarin pindah ke sana. Tapi gue gamau.”
“Yah... kalo lo pergi, gue kehilangan sahabat heboh yang sok lugu dong.”
“Yeehh ngeselin lo! Orang gue serius ahaha.”
“Ih, ngeselin kenapa coba? Kan kenyatannya emang lo heboh tapi sok lugu! Sok innocent!! Wkwkwkwk.”
“Kan! Ngeselin banget siihh!! Wahahaha.”
Mereka terus bercanda sampai bel masuk tiba, mereka kembali ke kelas masih sambil bercanda dan tertawa.
Malam harinya ketika Bianca dan keluarga sedang berkumpul di ruang tv, hp Bianca berbunyi menandakan sms. Begitu Bianca buka, ternyata dari Firza. Dia langsung menaruh kembali hpnya. Namun hpnya berbunyi lagi menandakan telfon masuk. Firza. Buru-buru Bianca menolaknya. Firza terus menelfonnya berulang kali, dan Bianca terus menolaknya. Tekadnya sudah bulat untuk menjauhi Firza.
“Telfonnya kenapa ga diangkat Ca?”
“Ga penting Ma.”
“Emang dari siapa?”
“Temen, tapi ngeselin banget, ngeganggu.”
“Siapa sih? Pacar kamu ya jangan-jangan?”
“Ih, Papa apa-apaan sih, Ica ga punya pacar tau.”
“Oh, berarti orang yang suka sama kamu tuh.”
“Bukan Paa, sok tau nih Papa woo,” Bianca malah mengelitiki Papanya. Papa Bianca juga mulai mengelitiki anak satu-satunya itu. Sementara Mamanya hanya tertawa melihat kedekatan putri dan suaminya. Tak berapa lama telfon rumah mereka berbunyi, karna Papa dan Bianca masih sibuk bercanda, maka Mamanyalah yang mengangkat telfon.



“Hallo, dari siapa ya?”
“Ini Firza tante.”
“Oh, Firza. Ada apa? Tumben nelfon ke rumah?”
“Icanya ada tante?”
“Ada kok, tuh lagi bercanda sama Papanya. Mau ngomong?”
“Oohh, gausah deh tante. Saya boleh ke sana ga sekarang?”
“Bener? Bolehlah, kamu masih aja kaku. Biasa main sampe malem juga.”
“Ehehe, kan izin dulu tante.”
“Iya iya diizinin kok.”
“Makasih tante.”
“Iya sama-sama. Tante tunggu ya.”
“Oiya tante.”
“Kenapa?”
“Jangan bilang Ica ya kalau saya mau dateng.”
“Lho? Kenapa? Kamu lagi berantem sama Ica?”
“Gapapa tante. Jangan bilang aja.”
“Iya, iya ga tante bilangin.”
“Makasih sekali lagi tante.”
“Iya, sama-sama Firza.”
Begitu Mama Bianca kembali ke ruang tv, suami dan anaknya masih saja bercanda-canda. Tak lama bel rumah mereka berbunyi.
“Ca, tolong bukain pintu ya? Mama mau ke dapur.”
“Oh, iya Ma.”
Bianca langsung berjalan menuju pintu depan dan membukanya. Betapa kagetnya Bianca begitu melihat Firza di hadapannya. Memang selama di sekolah Bianca selalu menjauhi Firza. Mungkin Firza sudah mulai merasakan perubahan Bianca.
“Hai Ca,” sapa Firza ramah dengan senyum khasnya.
“Eh Za. Ada apa?”
“Gue ga boleh masuk dulu ini?”
“Eh iya, silahkan masuk.”
Begitu Firza masuk, saat itu juga Mama Bianca membawakan minuman dan cemilan. Bianca sedikit heran melihat kebetulan yang aneh.
Kok? Wah jangan-jangan Mama udah tau si Firza mau ke sini. Ah elah, udah sengaja gue reject telfonnya. Huft! Gumam Bianca dalam hati.
“Wah, tante. Ga usah repot-repot tante.”
“Iya. Gausah repot-repot Ma, ngabisin makanan sama sirup aja.”
Awalnya Firza kira Bianca bercanda, tapi begitu melihat raut muka Bianca yang serius Firza langsung diam.
“Hush, ga boleh gitu kamu. Dia kan udah Mama anggap sebagai anak sendiri. Lagian dia sahabat kamu juga kan?”
“Ehehe, tante bisa aja.”
“Kamu ga pantes malu-malu gitu Za haha. Dimakan ya cemilannya. Minumnya juga dihabisin. Tante ke belakang dulu.”
“Ehehe, iya tante. Makasih ya.”
“Iya sama-sama.”
“Haahh,” Bianca yang melihat itu langsung membuang mukanya. Setelah Mamanya pergi, Bianca malah memandang keluar pintu.
“Lo kenapa sih Ca?”
“Kenapa apanya?”
“Kenapa jadi kayak ngejauhin gue gini?”
“Perasaan lo doang kali.”
“Tuh buktinya sampe ga mau ngeliat ke gue. Malah ngeliat keluar. Kenapa sih?”
“Gapapa kok.”
“Ca, jangan kayak gini kenapa. Kalo ada masalah cerita sama gue. Gue kan sahabat lo. Gue aja selalu cerita sama lo kan?”
“Gue gapapa.”
Firza yang mulai kesal karena Bianca terus melihat keluar akhirnya duduk di sebelah Bianca. Reflek Bianca kaget melihat Firza yang tiba-tiba ada di depannya dan kembali membuang muka.
“Za! Liat gue! Lo kenapa sih?!” Firza sedikit membentak Bianca dan menarik tangan Bianca. Namun, Bianca masih membuang mukanya.
“Za!” akhirnya Firza terpaksa menolehkan kepala Bianca juga.
“Apa sih?!”
“Lo kenapa jadi kayak gini?! Ada masalah? Bilang sama gue! Cerita! Jangan tiba-tiba jadi aneh gini!!”
“Lo sendiri kenapa bentak-bentak gue hah?!”
Firza tersentak begitu melihat cairan bening mengalir dari mata Bianca. Selama ini Firza tidak pernah melihat Bianca menangis. Sesulit apapun cobaan yang dialami Bianca, dia selalu tersenyum di depan Firza. Baru kali ini dia melihat sahabatnya itu menangis. Dadanya pun terasa sesak, entah kenapa. Tangannya berpindah dari dagu Bianca menuju kepala Bianca, menyenderkan kepala Bianca di bahunya. Sebelah tangannya mengusap-ngusap tangan Bianca yang masih dalam genggamannya.
“Maaf, gue ga sadar. Maaf. Udah jangan nangis lagi. Maaf ya.”
Tangis Bianca makin menjadi-jadi. Firza berusaha menenangkan Bianca, dengan menggenggam tangan Bianca lebih erat dan mengelus-ngelus rambutnya.
“Gue mau ke Ausie...” ucap Bianca begitu sudah tenang. Namun, dia masih belum berani melihat mata Firza.
Kembali... dada Firza terasa sesak, sangat sesak. Lidahnya terasa kaku, ingin dia mengucapkan apapun yang bisa mencegah kepergian sahabatnya itu.
Hening. Tidak ada yang membuka pembicaraan. Bianca yang sudah mulai tenang, menarik badan dan tangannya. Namun Firza menahannya.
“Gue udah tenang kok Za.”
“Tapi gue masih pengen kayak gini.

Tangannya pindah ke punggung Bianca dan menarik tubuh Bianca ke dalam pelukannya. Bianca sangat kaget dengan perlakuan Firza. Walaupun mereka sudah bersahabat dari kecil, tapi Firza tak pernah sekalipun memeluk Bianca. Begitu pula sebaliknya, Bianca memeluk Firza hanya di motor, itu juga kalau Firza mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
 “Jangan pergi...” Firza mengucapkannya dengan pelan, sangat pelan. Namun, tepat di sebelah telinga Bianca. Firza menenggelamkan kepalanya di bahu Bianca.
Dua kata yang biasa, tapi menurut Bianca itu sangat berarti. Dadanya semakin sesak mendengar ucapan Firza. Tapi dia berusaha menutupinya. Firza sudah melihatnya menangis, dia tidak boleh menunjukan keadaannya yang lebih menyedihkan.
“Kenapa?” Bianca mencoba berbicara dengan tenang, walaupun suaranya masih terdengar sedikit bergetar.
Cukup lama Firza diam, tidak menjawab pertanyaan Bianca.
“Karena gue ga mau kehilangan lo.”
“Tapi lo udah punya Clara kan?”
“Ga.. gue cuma punya lo.”
“Maksudnya?”
Firza melepaskan pelukannya. Menggenggam tangan Bianca dan menatapnya lurus di manik mata Bianca.
“Gue baru sadar, kalo yang gue butuhin itu lo. Kalo yang gue sayang itu lo. Dan cuma lo yang ada pas gue butuh. Maaf gue baru sadar itu sekarang. Please jangan ke Ausie. Gue butuh lo di samping gue.”
Bianca sebisa mungkin menahan air matanya, dia menatap objek lain. Menghindari tatapan Firza.
“Jangan pergi ya Ca? Aku mohon,” Firza semakin erat menggenggam tangan Bianca.
“Gue cape kalo harus ngeliat lo deket sama Clara terus. Sakit tau Za, nyesek,” Bianca menundukkan kepalanya, dia tak bisa lagi menahan air matanya.
Firza tersenyum penuh arti, senang rasanya bahwa perasaanya tidak bertepuk sebelah tangan. Dia mengangkat kepala Bianca, menghapus air matanya, dan kembali menggenggam tangan Bianca erat.
“Ica, dengerin aku. Aku sayang sama kamu. Aku mau kamu yang ada di samping aku, bukan Clara. Aku mau jadi orang yang selalu ada di samping kamu, yang ada buat kamu. Aku mau kamu jadi pacar aku. Aku mau kamu yang jadi pendamping aku.”
“Pfftt,” Bianca menahan tawanya.
“Lho? Kok ketawa?”
“Lo aneh Za kalo serius gitu ahahaha.”
“Dih? Nih anak ya. Orang lagi romantis-romantisan, malah diketawain. Ayo ketawa lagi ketawa lagi. Berani?!”
“Ahahahaha, geli Za geliiii ahaha udahan udahan ahaha iya iya ampuunn. Ahahaha udah ah mainannya kelitikan sih.”
“Masih berani ketawa?”
“Berani wleee,” Bianca memeletkan lidahnya, sementara Firza sudah siap-siap ingin mengelitiki Bianca lagi. Tapi, tangga Firza langsung ditahan olehnya. “Udahan ah kelitikannya. Geli tauuu.”
“Lagian ketawa mulu. Orang lagi serius.”
“Ehehe, maap. Abis mukanya lucu kalo kayak gitu. Kayak bukan Firza yang gue kenal. Ahahaha.”
“Songong kan emang. Udeh jawab dulu aja kali.”
“Jawab apa ya?” Bianca memasang muka innocent.
“Pura-pura lupa lagi. Gue kelitikin lagi lho.”
“Eehh, iya iya jawab.”
“Yaudah cepet jawab. Lama amat kayak keong.”
“Dih? Songong ngatain!! Ga gue jawab nih?”
“Tinggal gue kelitikin lagi. Susah amat.”
“Gue kabur.”
“Gue peluk.”
“.....” seketika Bianca tidak bisa membalas ucapan Firza.
“Jawab sayang. Mau apa ga?”
“Mau kok,” setelah cukup lama berfikir akhirnya Bianca berani mengucapkannya.
Firza tersenyum senang dan kembali memeluk Bianca. Bianca ikut tersenyum dan membalas pelukan Firza. Akhirnya mereka terus mengobrol hingga larut, sampai Mama Bianca mengingatkan kalau jam sudah menunjukan pukul 10 malam.
Hari-hari di sekolah mereka jalani seperti biasa. Bedanya mereka selalu bersama, datang ke sekolah, pulang dari sekolah, makan, kegiatan ekskul, bahkan kalau salah satu dari mereka ada kegiatan tambahan yang lain akan menunggu. Kedektan mereka yang memang sudah bukan rahasia umum, tidak membuat hal itu menjadi janggal. Dan mereka menikmati hal itu. Teman-teman mereka tetap mengira kalau mereka bersahabat, padahal mereka ada sepasang kekasih yang bahagia.
           
                                                                        -Selesai-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar