Tugas Softskill
Efektivitas Komunikasi
4EA03
1.
Indri
Try Maryoandri (15214324)
2.
Kartika
Dwi Cahyanti (15214782)
3.
Kurnia
Nanda Dennanti (15214935)
Fakultas
Ekonomi
Universitas
Gunadarma
BAB I
PENDAHULUAN
Manusia
adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk berinteraksi dan
berkomunikasi dalam kehidupannya. Hal ini tidak terlepas dari hakekat manusia,
dimana, sebagian besar kepribadian manusia terbentuk dari hasil interaksi
sosial dengan sesamanya. Istilah komunikasi berasal berasal dari bahasa inggris
yaitu communication, sedangkan dari bahasa latin adalah communicates yang
mempunyai arti berbagai atau menjadi milik bersama. Komunikasi siartikan
sebagai proses sharing diantara pihak-pihak yang melakukan aktifitas komunikasi
tersebut. Lexicographer (ahli kamus bahasa) mengatakan komunikasi adalah upaya
yang bertujuan untuk mencari kebersamaan. Jika dua orang berkomunikasi maka
pemahaman yang sama terhadap pesan yang saling dipertukarkan adalah tujuan yang
diinginkan oleh keduanya.
Definisi
komunikasi secara umum adalah suatu proses pembentukan, penyampaian,
penerimaan, pengelolaan pesan yang terjadi dalam diri seseorang dan atau
diantara dua atau lebih dengan tujuan tertentu. Artinya bahwa komunikasi
tersebut adalah suatu proses mengenai pembentukan, penyampaian, penerimaan, dan
pengolahan pesan. Setiap pelaku komunikasi dengan demikian akan melakukan empat
tindakan yaitu: membentuk, menyampaikan, menerima, dan mengolah pesan. Ke-empat
tindakan tersebut lazimnya terjadi secara berurutan. Membentuk pesan artinya
menciptakan suatu ide atau gagasan. Ini terjadi dalam benak kepala seseorang
melalui proses kerja system saraf. Pesan yang telah terbentuk ini kemudian
disampaikan kepada orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung.
Bentuk dan mengirim pesan, seseorang akan menerima pesan yang disampaikan oleh
orang lain. Pesan yang diterimanya ini kemudian akan diolah melalui system
syaraf dan diinterpretasikan. Setelah diinterpretasikan, pesan tersebut dapat
menimbulkan tanggapan atau reaksi dari orang tersebut.
Kegiatan
komunikasi yang dilakukan dapat menggunakan berbagai media komunikasi yang ada,
baik media komunikasi nonelektronik/konvensional maupun media komunikasi
elektronik. Media nonelektronik antara lain adalah penggunaan bahasa lisan,
bahasa isyarat / bahasa tubuh, dan aneka media komunikasi yang menggunakan
kertas (aneka macam surat menyurat, surat kabar, majalah, dan tabloid).
Sedangkan media komunikasi elektronik antara lain adalah media audio-visual
(televisi), intercom, radio panggil (pager), Internet (situs web dan e-mail
[electronic mail]), teleconference, video conference, telepon biasa (fixed line), dan telepon genggam/seluler
(handphone).
Dalam
dunia bisnis yang berskala kecil, menengah, maupun besar orang-orang yang
berkecimpung di dalamnya (para pelaku bisnis) tidak dapat terlepas dari
kegiatan komunikasi. Oleh karena itu, bagi mereka komunikasi merupakan faktor
yang sangat penting demi pencapaian tujuan suatu organisasi. Mereka dapat
menggunakan berbagai komunikasi yang ada, baik yang konvensional maupun yang
elektronik sebagai sarana penyampaian pesn-pesan bisnis. Seorang pemimpin suatu
organisasi bisnis dapat memberikan perintah kerja atau tugas kepada bawahannya
secara lisan maupun tertulis. Perintah kerja yang disampaikan secara lisan
meliputi penyampaian pesan bisnis melalui telepon, radio panggil (pager), intercom, rapat-rapat (meeting), dan pengarahan (briefing). Pesan-pesan bisnis secara
tertulis antara lain dapat berupa rangkuman rapat, laporan kerja, memo, surat
tugas kerja, surat perjanjian kerja, surat pemesanan barang, menjawaw atau
membuat surat pengaduan (complaint
letters), surat edaran umum, surat pengumuman, surat kontrak kerja sama,
surat balasan/tanggapan, surat penerimaan kerja, surat penolakan kerja, atau
proposal ekspansi usaha. Pembuatan pesan-pesan bisnis tersebut merupakan
kegiatan yang rutin dilakukan dalam dunia bisnis.
BAB II
KAJIAN TEORI
1.
Pengertian
Komunikasi Bisnis
Menurut
Himstreet dan Bety dalam Bussiness
Communication: Principles and Methods, komunikasi adalah suatu proses
pertukaran informasi antarindividu melalui suatu system yang biasa (lazim),
baik dengan symbol-simbol, sinyal-sinyal, maupun perilaku atau tindakan.
Sementara itu menurut Bovee, komunikasi adalah suatu proses pengiriman dan
penerimaan pesan. Pada umunya, pengertian komunikasi ini paling tidak
melibatkan dua orang atau lebih, dan
proses pemindahan pesannya dapat dilakukan oleh seseorang melalui lisan,
tulisan, maupun sinyal-sinyal nonverbal.
Komunikasi
bisnis adalah komunikasi yang digunakan dalam dunia bisnis yang mencakup
berbagai maca, bentuk komunikasi, baik komunikasi verbal maupun nonverbal.
Dalam dunia bisnis, seorang komunikator yang baik disamping harus memiliki
kemampuan berkomunikasi yang baik, juga harus mampu menggunakan berbagai macam
alat atau media komunikasi yang ada untuk menyampaikan pesan-pesan bisnis
kepada pihak lain secara efektif dan efisien, sehinggan tujuan penyampaian pesan-pesan
bisnis dapat tercapai. Para komunikator seharusnya memahami memahami dengan
baik bagaimana menyusun kata-kata yang mampu membentuk suatu arti atau makna,
bagaimana mengubah suatu situasi menjadi lebih menarik dan menyenangkan,
bagaimana mengajak peserta / audiens
untuk berperan aktif dalam diskusi, bagaimana menyelipkan humor (lelucon) yang
mampu menghidupkan suasana, bagaimana menyiapkan atau mengatur ruangan yang
mampu menghidupkan diskusi, serta bagaimana memilih media komunikasi secara
tepat (melalui media tertulis (written)
atau lisan (oral). Disamping itu,
seharusnya mereka juga dapat menggunakan gerakan-gerakan isyarat ataupun bahasa
tubuh untuk memperkuat penyampaian pesan-pesan bisnis.
2.
Proses
Komunikasi Bisnis
Menurut
Bovee dan Thill dalam buku Bussiness
Communication Today, 6e, proses komunikasi terdiri atas enam tahap yaitu:
1. Pengirim
mempunyai suatu ide atau gagasan.
2. Pengirim
mengubah ide menjadi sebuah pesan.
3. Pengirim
menyampaikan pesan.
4. Penerima
menerima pesan.
5. Penerima
menafsirkan pesan.
6. Penerima memberi
tanggapan dan mengirim umpan balik kepada pengirim.
Tahap Pertama: Pengirim mempunyai suatu Ide/Gagasan
Sebelum proses
penyampaian pesan dapat dilakukan, pengirim pesan harus menyiapkan ide atau
gagasan apa yang ingin disampaikan kepada pihak lain atau audiens. Ide dapat
diperoleh dari berbagai sumber yang terbentang luas di hadapan kita. Ide-ide
yang ada dalam benak kita disaring dan disusun ke dalam suatu memori yang ada
dalam jaringan otak, yang merupakan gambaran persepsi kita terhadap kenyataan.
Setiap orang akan memiliki peta mental yang berbeda karena kita memandang dunia
dan menyerap berbagai pengalaman dengan suatu cara yang unik dan bersifat
individual.
Tahap Kedua: Pengirim Mengubah Ide Menjadi Suatu Pesan
Dalam suatu proses komunikasi, tidak
semua ide dapat diterima atau dimengerti dengan sempurna. Agar ide dapat
diterima dan dimengerti dengan sempurna, pengirim pesan harus memperhatikan
beberapa hal, yaitu subjek (apa yang ingin disampaikan), maksud (tujuan),
audiens, gaya personal, dan latar belakang budaya.
Tahap Ketiga: Pengirim Menyampaikan Pesan
Setelah mengubah ide-ide ke dalam
suatu pesan, tahap berikutnya adalah memindahkan atau menyampaikan pesan
melalui berbagai saluran yang ada kepada penerima pesan. Saluran komunikasi
yang digunakan untuk menyampaikan pesan terkadang relatif pendek, tetapi ada
juga yang cukup panjang. Panjang-pendeknya saluran komunikasi yang digunakan
akan berpengaruh terhadap efetivitas penyampaian pesan. Bila menyampaikan
pesan-pesan yang panjang dan kompleks secara lisan, pesan-pesan tersebut bisa
jadi terdistorsi atau bahkan bertentangan dengan pesan aslinya. Disamping itu,
dalam menyampaikan suatu pesan, berbagai media komunikasi (media tulisan maupun
lisan) dapat digunakan. Oleh karena itu, perlu diperhatikan jenis atau sifat
pesan yang akan disampaikan.
Tahap Keempat: Penerima Menerima Pesan
Komunikasi antar seseorang dengan orang lain akan terjadi, bila pengirim (komunikator) mengirimkan suatu pesan dan penerima (komunikan) menerima pesan tersebut. Jika seseorang mengirim sepucuk surat, komunikasi baru bisa terjalin bila penerima surat telah membaca dan memahami isinya. Jika seseorang menyampaikan pidato di hadapan umum, para pendengar sebagai audiens harus dapat mendengar apa yang dikatakan dan memahami pesan-pesan yang disampaikan.
Tahap Kelima: Penerima Menafsirkan Pesan
Setelah penerima menerima pesan, tahap berikutnya adalah bagaimana ia dapat menafsirkan pesan, Suatu pesan yang disampaikan pengirim harus mudah dimengerti dan tersimpan di dalam benak pikiran si penerima pesan. Selanjutnya, suatu pesan baru dapat ditafsirkan secara benar bila penerima pesan telah memahami isi pesan sebagaimana yang dimaksud oleh pengirim pesan.
Setelah penerima menerima pesan, tahap berikutnya adalah bagaimana ia dapat menafsirkan pesan, Suatu pesan yang disampaikan pengirim harus mudah dimengerti dan tersimpan di dalam benak pikiran si penerima pesan. Selanjutnya, suatu pesan baru dapat ditafsirkan secara benar bila penerima pesan telah memahami isi pesan sebagaimana yang dimaksud oleh pengirim pesan.
Tahap Keenam: Penerima Memberi Tanggapan dan Umpan
Balik ke Pengirim
Umpan balik (feedback) adalah penghubung akhir dalam suatu mata rantai komunikasi. Umpan balik tersebut merupakan tanggapan penerima pesan yang memungkinkan pengirim untuk menilai efektivitas suatu pesan. Setelah menerima pesan, komunikan akan memberi tanggapan dengan cara tertentu dan memberi sinyal terhadap pengirim pesan. Sinyal yang diberikan oleh penerima pesan beraneka macam, dapat berupa senyuman, tertawa, sikap murung, cemberut, memberi komentar sekilas (singkat), anggukan sebagai pembenaran, atau pesan secara tertulis.
Umpan balik (feedback) adalah penghubung akhir dalam suatu mata rantai komunikasi. Umpan balik tersebut merupakan tanggapan penerima pesan yang memungkinkan pengirim untuk menilai efektivitas suatu pesan. Setelah menerima pesan, komunikan akan memberi tanggapan dengan cara tertentu dan memberi sinyal terhadap pengirim pesan. Sinyal yang diberikan oleh penerima pesan beraneka macam, dapat berupa senyuman, tertawa, sikap murung, cemberut, memberi komentar sekilas (singkat), anggukan sebagai pembenaran, atau pesan secara tertulis.
3.
Fungsi
Komunikasi Bisnis
a. Fungsi Informatif
a. Fungsi Informatif
Aktivitas yang kita lakukan berperan
memberikan informasi tentang bisnis kita, pada saat yang mungkin bersamaan kita
juga mencari informasi tentang siapa pesaing kita, bagaimana kondisi perusahaan
dan kekuatannya pada market place.
b. Fungsi
Persuasif
Komunikasi diarahkan untuk
memberikan treatment agar orang lain merubah sikap, pendapat dan perilakunya
seperti yang diharapkan oleh komunikator dalam organisasi bisnis. Fungsi ini
dijalankan untuk membangun komitmen para pelakunya terhadap organisasi atau
lembaga tempat bekerja, dari mulai manajer hingga tukang sapu, sehinggu visi,
misi, strategi dan taktik dapat berjalan secara efektif dalam mencapai tujuan
bisnis yang telah ditetapkan sebelumnya.
c.
Fungsi Kontrol
Tanpa adanya fungsi kontrol dalam
komunikasi bisnis, operasional organisasi tidak dapat berjalan secara efektif.
Artinya mengkomunikasikan atau yang harus dikerjakan atau tidak harus
dikerjakan oleh bawahan atau manajer sekalipun.
Fungsi ini dapat berjalan efektif bila;
1. Informasi yang disampaikan jelas, akurat dan tidak
mengandung ambiguitas yang berlebihan
2. Komunikasi yang dilakukan sekaligus memperkaya skill
bawahan
3. Membuka saluran umpan balik.
d. Fungsi
Emosi
Fungsi emotif meningkat ke penerapan
isi pesan, karena berkaitan dengan rasa suka tidak suka, benci dan cinta, puas
atau tidak puas, kegembiraan dan kesedihan, menyenangkan atau kedekatan
emosional lainnya.
4.
Manfaat
Komunikasi yang Efektif dalam Dunia Bisnis
Secara
umum, ada tiga tujuan komunikasi bisnis yaitu; memberi informasi (Informing)
persuasi (persuading) dan melakukan kolaborasi, (collaborating) dengan audiens
(pelanggan). Berikut ini adalah beberapa manfaat penting dari komunikasi yang
efektif dalam dunia bisnis.
1. Memberi
Informasi
Tujuan
pertama dalam komunikasi bisnis adalah memberikan informasi yang berkaitan
dengan dunia bisnis kepada pihak lain, contoh seorang pemimpin perusahaan ingin
mendapatkan pegawai yang diharapkan, maka Dia memasang iklan melalui mass
media, memasang websitus/situs di jalur internet, dalam hal ini setiap media
mempunyai kelebihan dan kekurangan dilihat dari jangkauan dan biayanya, untuk
itu harus memilih media mana yang akan dipilih. Dan itu tergantung pada
kebijakan perusahaan dengan melihat kemampuan internal perusahaan tersebut.
Contoh yang lain misalnya sebuah Departemen Store memasang tulisan discountbesar-besaran
pada produknya.
2. Memberi Persuasi
Tujuan
kedua komunikasi bisnis adalah memberikan persuasi kepada pihak lain agar apa
yang disampaikan dapat dipahami dengan baik dan benar, hal ini sering dilakukan
terutama yang berkaitan dengan penegasan konfi rmasi pesanan pelanggan atau
negoisasi dengan pelanggan, agar kedua pihak memperoleh manfaat secara
bersama-sama tanpa ada yang merasa dirugikan.
3. Melakukan Kolaborasi
Tujuan
ketiga dalam komunikasi bisnis adalah melakukan kolaborasi, atau kerja sama
bisnis antara seseorang dengan orang lain, melalui jalinan komunikasi bisnis
tersebut seseorang dapat dengan mudah melakukan kerja sama bisnis, saat
sekarang seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi maka seseorang
dapat menggunakan berbagai media telekomunikasi seperti telpon, faksimile,
telpon seluler, internet surat elektronik, teleconference. Teknologi komunikasi
tersebut sangat penting artinya dalam pererat kerja sama bisnis.
5. Pengaruh Komunikasi Bisnis dalam Perusahaan
Peran
Komunikasi dalam Bisnis Komunikasi bisnis adalah proses pertukaran pesan
atau informasi untuk mencapai efektivitas dan efisiensi produk kerja di dalam
struktur dan sistem organisasi. Dalam kegiatan komunikasi bisnis, pesan
hendaknya tidak hanya sekedar informatif tetapi juga haruslah Persuasif, agar
pihak lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan atau melakukan suatu
perbuatan atau kegiatan.
Di
era globalisasi ini, tantangan seorang manajer di masa depan relatif akan
semakin sulit, karena dunia bisnis menghadapi lingkungan persaingan yang
cenderung semakin turbulen. Para manajer perlu membekali diri dengan
keterampilan lintas budaya, berupa kemampuan berinteraksi dengan berbagai ragam
budaya, gaya manajemen / bisnis bangsa lain, maupun kerjasama tim, baik intern
maupun dalam suatu aliansi strategis dengan mitra bisnis. Disini peran
komunikasi bisnis menjadi semakin sangat penting, yaitu kemampuan membaca,
menafsirkan laporan dan informasi dari lingkungan. Disamping menyampaikan
gagasan, baik lisan maupun tertulis secara sistematik.
Keberhasilan
komunikasi di dalam suatu organisasi akan ditentukan oleh kesamaan pemahaman
antara orang yang terlibat dalam kegiatan komunikasi. Kesamaan pemahaman ini
dipengaruhi oleh kejelasan pesan, cara penyampaian pesan, perilaku komunikasi,
dan situasi (tempat dan waktu) komunikasi. Komunikasi organisasi biasanya
menggunakan kombinasi cara berkomunikasi (lisan, tertulis dan tayangan) yang
memungkinkan terjadinya peyerapan informasi dengan lebih mudah dan jelas.
Secara empiris, pemahaman orang perihal sesuatu hal akan lebih mudah diserap
dan dipahami jika sesuatu tersebut diperlihatkan dibanding hanya diperdengarkan
atau dibacakan. Dan akan lebih baik lagi hasilnya jika sesuatu yang
dikomunikasikan tersebut, selain diperlihatkan juga sekaligus dipraktikkan.
Hasil
studi tentang perilaku bisnis di kalangan eksekutif menunjukkan fakta bahwa
kemampuan berkomunikasi merupakan unsur pokok di antara berbagai faktor
personal yang diperlukan untuk mempromosikan menejemen organisasi atau mengatasi
konflik menejemen (Boove and Thill, 2002). Dengan kata lain, kemampuan
berkomunikasi efektif sekaligus juga merupakan salahsatu ciri mutu SDM
karyawan. Istilahnya, komunikasi efektif dalam suatu organisasi dapat
diumpamakan seperti darah dalam tubuh dan kunci kesuksesan.
Dengan kata lain, tanpa komunikasi suatu organisasi tidak dapat berfungsi optimal. Pertanyaannya adalah mengapa? Jawabannya ialah karena organisasi merupakan kumpulan orang yang memerlukan jasa komunikasi untuk meraih kesuksesan berorganisasi. Kegiatan komunikasi ini mencakup proses berinteraksi-mereaksi, tukar menukar informasi atau gagasan atau rencana, mengusulkan, mengkordinasi, dan membuat keputusan.
Dengan kata lain, tanpa komunikasi suatu organisasi tidak dapat berfungsi optimal. Pertanyaannya adalah mengapa? Jawabannya ialah karena organisasi merupakan kumpulan orang yang memerlukan jasa komunikasi untuk meraih kesuksesan berorganisasi. Kegiatan komunikasi ini mencakup proses berinteraksi-mereaksi, tukar menukar informasi atau gagasan atau rencana, mengusulkan, mengkordinasi, dan membuat keputusan.
6.
Pentingnya
Kemampuan Komunikasi Bisnis
Komunikasi
bisnis yang baik dapat menentukan keberhasilan suatu perusahaan. Hal ini perlu
diperhatikan oleh setiap manajer perusahaan. Tantangan seorang manajer di masa
depan relatif akan semakin sulit, yang menuntut kemampuan untuk
mengkomunikasikan ide gagasan dan tujuan dalam lingkungan organisasinya serta
bagaimana menyampaikan produk atau jasa yang dimilikinya kepada pelanggan. Di
sisi lain, proses manajemen, adalah suatu aktivitas komunikasi. Terdapat 6
kendala yang mungkin muncul saat manajer mengkomunikasikan bisnis
organisasinya, yaitu :
a. Struktur
komunikasi yang buruk
Struktur
komunikasi adalah faktor esensial, yang menentukan baik-buruknya komunikasi
bisnis. Tidak penting apakah audiencenya hanya satu orang atau ribuan orang dan
sekalipun di tengah bisingnya lingkungan bisnis dan pemasaran, pesan yang
disampaikan haruslah terdengar dan dimengerti.
b. Penyampaian yang lemah
Tidak
menjadi menjadi masalah, apakah pesan itu penting atau impresif. Namun apabila
disampaikannya tanpa “sentuhan yang kuat”, hasilnya tidak akan dapat
menyakinkan orang lain sesuai harapan. Disamping itu, meskipun telah dilakukan
“sentuhan “ yang sudah tepat ternyata seringkali juga masih memerlukan waktu
untuk mendapatkan respons. Dengan demikian, pesan yang kuat, tidak boleh
seperti lawakan yang tidak lucu. Pesan yang disampaikan haruslah ‘menyentuh’
secara kuat dan telak, tidak sekedar mengelus-elus atau mengingatkan.
c. Penggunaan media yang salah
Perlu
untuk mempertimbangkan siapa, dari kalangan atau status sosial mana dan
karakteristik unik lainnya dari sasaran yang kita tuju, sehingga kita dapat
memilih media yang tepat. Jika pesan yang disampaikan sangat kompleks,
berikanlah ruang agar audience kita dapat mencerna pesan tersebut secara lebih
leluasa, sesuai kecepatan mereka, seperti di kamar tidur, kamar mandi,
televise, radio, majalah, koran dan lain sebagainya.
d.
Pesan yang campur aduk
Pesan
yang campur aduk, hanya akan menimbulkan kebingungan atau bahkan cemoohan dari
audience. Seperti, larangan untuk memberikan hadiah kepada klien, tetapi pada
saat yang sama memberikan pengecualian untuk klien-klien baru atau pelanggan
VIP yang berpotensi besar pada bisnis perusahaan. Sementara, kriteria dari
klien potensial atau pelanggan VIP tersebut tidak dirinci secara jelas.
e. Salah Audience
Topik
yang dipilih hendaknya relevan dan sesuai dengan ekspektasi audience. Sebagai
contoh, misalnya dalam event pertemuan antara wakil dari Pemerintah dan
Pengusaha, namun dalam presentasi disajikan tentang analisis situasi politik
dan pemerintahan, sedangkan para pengusaha, sebenarnya lebih mengharapkan
penjelasan bagaimana tindakan atau langkah-langkah konkrit yang diambil
pemerintah untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif.
f. Lingkungan yang mengganggu
Lingkungan
yang mengganggu jelas merupakan kendala dalam komunikasi, sehingga pesan yang
disampaikan tidak dapat diterima / didengar secara optimal. Seperti Suara
penyaji yang tidak cukup terdengar oleh Audience, Suara keras dari luar
ruangan, (seperti raungan sirine ambulan atau suara lalu lintas yang padat ),
Bunyi handphone dari kantong audience, Interupsi, Sesi bicara yang menegangkan,
dsb. Oleh karena itu, perlunya pemilihan tempat yang tepat serta upaya agar
audience fokus dengan pesan yang disampaikan.
Kendala
komunikasi bisnis dapat bermacam-macam, namun dengan kehati-hatian serta
kecermatan, sebagian kendala tersebut akan dapat diatasi. Presentasi yang
disampaikan akan lebih bermakna dengan kendala yang diminimalisir, sehingga
pesan yang disampaikan dapat memberikan efek yang diharapkan.
BAB III
KESIMPULAN
Komunikasi
bisnis adalah proses pertukaran pesan atau informasi untuk mencapaiefektivitas
dan efisiensi produk kerja di dalam struktur dan sistem organisasi. Dalam
kegiatan komunikasi bisnis, pesan hendaknya tidak hanya sekedar informatif
tetapi juga haruslah Persuasif, agar pihak lain bersedia menerima suatu paham
atau keyakinan atau melakukan suatu perbuatan atau kegiatan. Di era globalisasi
ini, tantangan seorang manajer di masa depan relatif akan semakinsulit, karena
dunia bisnis menghadapi lingkungan persaingan yang cenderung semakin ketat.
Para manajer perlu membekali diri dengan keterampilan lintas budaya, berupa
kemampuan berinteraksi dengan berbagai ragam budaya, gaya manajemen / bisnis bangsa
lain, maupun kerjasama tim, baik intern maupun dalam suatu aliansi strategis dengan
mitra bisnis. Peran komunikasi bisnis menjadi semakin sangat penting,yaitu
kemampuan membaca, menafsirkan laporan dan informasi dari lingkungan.Disamping
menyampaikan gagasan, baik lisan maupun tertulis secara sistematik. Di era ebisnis,
komunikasi berkembang menjadi suatu bisnis tersendiri. Perkembangan sistim
informasi dan teknologi mempercepat proses globalisasi dan memberikan peluang
bagi dunia usaha di Indonesia untuk mengembangkan usahanya,melalui berbagai
kesempatan menjalin relasi bisnis, pemasaran produk ataupun lainnya, dan
efektivitas bisnis pada umumnya dibicarakan dalam konteks aktivitas manajemen
dan kelompok atau organisasi. Efektivitas selalu mengacu kepada tujuan
organisasi dan sekaligus kepada kelangsungan hidup organisasi. Oleh karena itu
efektivitas harus diukur dengan produk dari suatu organisasi yang mencakup
jumlah dan mutunya diukur dengan aspek kemanusiaan baik yang menjadi unsur
penggerak maupun unsur konstituen dari organisasi. Efektivitas juga diukur dengan
bagaimana anggota suatu organisasi dikembangkan kemampuannya dalam melakukan
tugas-tugas organisasi.
Untuk
itu efektivitas tidak boleh lepas dari: faktor tujuan, faktor manusia, faktor
nilai-nilai dan faktor sistem organisasi itu sendiri yang dihubungkan
dengan kondisi waktu, target, jumlah, dan kualitas. Dengan demikian efektivitas
ternyata bersifat multidimensional, sehingg strategi yang dipilih untuk
meningkatkan efektivitas tergantung pada kekhususan atau spesifikasi faktor
dari permasalahan yang hendak dipecahkan. Yang perlu digaris bawahi bahwa
sesuatu yang efektif belum tentu efisien, demikian sebaliknya sesuatu yang
efisien belum tentu efektif, namun perlu ditegaskan kembali bahwa jika sesuatu
kegiatan atau aktivitas telah terbukti ketidak efektifannya maka tidak perlu
lagi mempersoalkan efisiensinya.
DAFTAR PUSTAKA
Purwanto, Djoko.
Drs M.B.A. 2006. Komunikasi Bisnis.
Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga
Nurrohim, Hassa.
Lina Anatan. Efektivitas Komunikasi Dalam
Organisasi. Jurnal Manajemen, Vol.7, No.4 Mei 2009.
http://www.pendidikanekonomi.com/2016/03/pentingnya-komunikasi-yang-efektif.html
