Rabu, 01 November 2017

Essai Efektivitas Bisnis

Tugas Softskill
Efektivitas Komunikasi










4EA03
1.    Indri Try Maryoandri (15214324)
2.    Kartika Dwi Cahyanti (15214782)
3.    Kurnia Nanda Dennanti (15214935)





Fakultas Ekonomi
Universitas Gunadarma



BAB I
PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk berinteraksi dan berkomunikasi dalam kehidupannya. Hal ini tidak terlepas dari hakekat manusia, dimana, sebagian besar kepribadian manusia terbentuk dari hasil interaksi sosial dengan sesamanya. Istilah komunikasi berasal berasal dari bahasa inggris yaitu communication, sedangkan dari bahasa latin adalah communicates yang mempunyai arti berbagai atau menjadi milik bersama. Komunikasi siartikan sebagai proses sharing diantara pihak-pihak yang melakukan aktifitas komunikasi tersebut. Lexicographer (ahli kamus bahasa) mengatakan komunikasi adalah upaya yang bertujuan untuk mencari kebersamaan. Jika dua orang berkomunikasi maka pemahaman yang sama terhadap pesan yang saling dipertukarkan adalah tujuan yang diinginkan oleh keduanya.
Definisi komunikasi secara umum adalah suatu proses pembentukan, penyampaian, penerimaan, pengelolaan pesan yang terjadi dalam diri seseorang dan atau diantara dua atau lebih dengan tujuan tertentu. Artinya bahwa komunikasi tersebut adalah suatu proses mengenai pembentukan, penyampaian, penerimaan, dan pengolahan pesan. Setiap pelaku komunikasi dengan demikian akan melakukan empat tindakan yaitu: membentuk, menyampaikan, menerima, dan mengolah pesan. Ke-empat tindakan tersebut lazimnya terjadi secara berurutan. Membentuk pesan artinya menciptakan suatu ide atau gagasan. Ini terjadi dalam benak kepala seseorang melalui proses kerja system saraf. Pesan yang telah terbentuk ini kemudian disampaikan kepada orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Bentuk dan mengirim pesan, seseorang akan menerima pesan yang disampaikan oleh orang lain. Pesan yang diterimanya ini kemudian akan diolah melalui system syaraf dan diinterpretasikan. Setelah diinterpretasikan, pesan tersebut dapat menimbulkan tanggapan atau reaksi dari orang tersebut.
Kegiatan komunikasi yang dilakukan dapat menggunakan berbagai media komunikasi yang ada, baik media komunikasi nonelektronik/konvensional maupun media komunikasi elektronik. Media nonelektronik antara lain adalah penggunaan bahasa lisan, bahasa isyarat / bahasa tubuh, dan aneka media komunikasi yang menggunakan kertas (aneka macam surat menyurat, surat kabar, majalah, dan tabloid). Sedangkan media komunikasi elektronik antara lain adalah media audio-visual (televisi), intercom, radio panggil (pager), Internet (situs web dan e-mail [electronic mail]), teleconference, video conference, telepon biasa (fixed line), dan telepon genggam/seluler (handphone).
Dalam dunia bisnis yang berskala kecil, menengah, maupun besar orang-orang yang berkecimpung di dalamnya (para pelaku bisnis) tidak dapat terlepas dari kegiatan komunikasi. Oleh karena itu, bagi mereka komunikasi merupakan faktor yang sangat penting demi pencapaian tujuan suatu organisasi. Mereka dapat menggunakan berbagai komunikasi yang ada, baik yang konvensional maupun yang elektronik sebagai sarana penyampaian pesn-pesan bisnis. Seorang pemimpin suatu organisasi bisnis dapat memberikan perintah kerja atau tugas kepada bawahannya secara lisan maupun tertulis. Perintah kerja yang disampaikan secara lisan meliputi penyampaian pesan bisnis melalui telepon, radio panggil (pager), intercom, rapat-rapat (meeting), dan pengarahan (briefing). Pesan-pesan bisnis secara tertulis antara lain dapat berupa rangkuman rapat, laporan kerja, memo, surat tugas kerja, surat perjanjian kerja, surat pemesanan barang, menjawaw atau membuat surat pengaduan (complaint letters), surat edaran umum, surat pengumuman, surat kontrak kerja sama, surat balasan/tanggapan, surat penerimaan kerja, surat penolakan kerja, atau proposal ekspansi usaha. Pembuatan pesan-pesan bisnis tersebut merupakan kegiatan yang rutin dilakukan dalam dunia bisnis.



BAB II
KAJIAN TEORI
1.      Pengertian Komunikasi Bisnis
Menurut Himstreet dan Bety dalam Bussiness Communication: Principles and Methods, komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antarindividu melalui suatu system yang biasa (lazim), baik dengan symbol-simbol, sinyal-sinyal, maupun perilaku atau tindakan. Sementara itu menurut Bovee, komunikasi adalah suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan. Pada umunya, pengertian komunikasi ini paling tidak melibatkan dua orang atau lebih, dan proses pemindahan pesannya dapat dilakukan oleh seseorang melalui lisan, tulisan, maupun sinyal-sinyal nonverbal.
Komunikasi bisnis adalah komunikasi yang digunakan dalam dunia bisnis yang mencakup berbagai maca, bentuk komunikasi, baik komunikasi verbal maupun nonverbal. Dalam dunia bisnis, seorang komunikator yang baik disamping harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, juga harus mampu menggunakan berbagai macam alat atau media komunikasi yang ada untuk menyampaikan pesan-pesan bisnis kepada pihak lain secara efektif dan efisien, sehinggan tujuan penyampaian pesan-pesan bisnis dapat tercapai. Para komunikator seharusnya memahami memahami dengan baik bagaimana menyusun kata-kata yang mampu membentuk suatu arti atau makna, bagaimana mengubah suatu situasi menjadi lebih menarik dan menyenangkan, bagaimana mengajak peserta / audiens untuk berperan aktif dalam diskusi, bagaimana menyelipkan humor (lelucon) yang mampu menghidupkan suasana, bagaimana menyiapkan atau mengatur ruangan yang mampu menghidupkan diskusi, serta bagaimana memilih media komunikasi secara tepat (melalui media tertulis (written) atau lisan (oral). Disamping itu, seharusnya mereka juga dapat menggunakan gerakan-gerakan isyarat ataupun bahasa tubuh untuk memperkuat penyampaian pesan-pesan bisnis.

2.      Proses Komunikasi Bisnis
Menurut Bovee dan Thill dalam buku Bussiness Communication Today, 6e, proses komunikasi terdiri atas enam tahap yaitu:
1.      Pengirim mempunyai suatu ide atau gagasan.
2.      Pengirim mengubah ide menjadi sebuah pesan.
3.      Pengirim menyampaikan pesan.
4.      Penerima menerima pesan.
5.      Penerima menafsirkan pesan.
6.      Penerima memberi tanggapan dan mengirim umpan balik kepada pengirim.

Tahap Pertama: Pengirim mempunyai suatu Ide/Gagasan
Sebelum proses penyampaian pesan dapat dilakukan, pengirim pesan harus menyiapkan ide atau gagasan apa yang ingin disampaikan kepada pihak lain atau audiens. Ide dapat diperoleh dari berbagai sumber yang terbentang luas di hadapan kita. Ide-ide yang ada dalam benak kita disaring dan disusun ke dalam suatu memori yang ada dalam jaringan otak, yang merupakan gambaran persepsi kita terhadap kenyataan. Setiap orang akan memiliki peta mental yang berbeda karena kita memandang dunia dan menyerap berbagai pengalaman dengan suatu cara yang unik dan bersifat individual.

Tahap Kedua: Pengirim Mengubah Ide Menjadi Suatu Pesan
Dalam suatu proses komunikasi, tidak semua ide dapat diterima atau dimengerti dengan sempurna. Agar ide dapat diterima dan dimengerti dengan sempurna, pengirim pesan harus memperhatikan beberapa hal, yaitu subjek (apa yang ingin disampaikan), maksud (tujuan), audiens, gaya personal, dan latar belakang budaya.

Tahap Ketiga: Pengirim Menyampaikan Pesan
Setelah mengubah ide-ide ke dalam suatu pesan, tahap berikutnya adalah memindahkan atau menyampaikan pesan melalui berbagai saluran yang ada kepada penerima pesan. Saluran komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan terkadang relatif pendek, tetapi ada juga yang cukup panjang. Panjang-pendeknya saluran komunikasi yang digunakan akan berpengaruh terhadap efetivitas penyampaian pesan. Bila menyampaikan pesan-pesan yang panjang dan kompleks secara lisan, pesan-pesan tersebut bisa jadi terdistorsi atau bahkan bertentangan dengan pesan aslinya. Disamping itu, dalam menyampaikan suatu pesan, berbagai media komunikasi (media tulisan maupun lisan) dapat digunakan. Oleh karena itu, perlu diperhatikan jenis atau sifat pesan yang akan disampaikan.

Tahap Keempat: Penerima Menerima Pesan
Komunikasi antar seseorang dengan orang lain akan terjadi, bila pengirim (komunikator) mengirimkan suatu pesan dan penerima (komunikan) menerima pesan tersebut. Jika seseorang mengirim sepucuk surat, komunikasi baru bisa terjalin bila penerima surat telah membaca dan memahami isinya. Jika seseorang menyampaikan pidato di hadapan umum, para pendengar sebagai audiens harus dapat mendengar apa yang dikatakan dan memahami pesan-pesan yang disampaikan.
Tahap Kelima: Penerima Menafsirkan Pesan
Setelah penerima menerima pesan, tahap berikutnya adalah bagaimana ia dapat menafsirkan pesan, Suatu pesan yang disampaikan pengirim harus mudah dimengerti dan tersimpan di dalam benak pikiran si penerima pesan. Selanjutnya, suatu pesan baru dapat ditafsirkan secara benar bila penerima pesan telah memahami isi pesan sebagaimana yang dimaksud oleh pengirim pesan.
Tahap Keenam: Penerima Memberi Tanggapan dan Umpan Balik ke Pengirim
Umpan balik (feedback) adalah penghubung akhir dalam suatu mata rantai komunikasi. Umpan balik tersebut merupakan tanggapan penerima pesan yang memungkinkan pengirim untuk menilai efektivitas suatu pesan. Setelah menerima pesan, komunikan akan memberi tanggapan dengan cara tertentu dan memberi sinyal terhadap pengirim pesan. Sinyal yang diberikan oleh penerima pesan beraneka macam, dapat berupa senyuman, tertawa, sikap murung, cemberut, memberi komentar sekilas (singkat), anggukan sebagai pembenaran, atau pesan secara tertulis.

3.      Fungsi Komunikasi Bisnis
a.       Fungsi Informatif
Aktivitas yang kita lakukan berperan memberikan informasi tentang bisnis kita, pada saat yang mungkin bersamaan kita juga mencari informasi tentang siapa pesaing kita, bagaimana kondisi perusahaan dan kekuatannya pada market place.

b.      Fungsi Persuasif
Komunikasi diarahkan untuk memberikan treatment agar orang lain merubah sikap, pendapat dan perilakunya seperti yang diharapkan oleh komunikator dalam organisasi bisnis. Fungsi ini dijalankan untuk membangun komitmen para pelakunya terhadap organisasi atau lembaga tempat bekerja, dari mulai manajer hingga tukang sapu, sehinggu visi, misi, strategi dan taktik dapat berjalan secara efektif dalam mencapai tujuan bisnis yang telah ditetapkan sebelumnya.

c.       Fungsi Kontrol
Tanpa adanya fungsi kontrol dalam komunikasi bisnis, operasional organisasi tidak dapat berjalan secara efektif. Artinya mengkomunikasikan atau yang harus dikerjakan atau tidak harus dikerjakan oleh bawahan atau manajer sekalipun.

Fungsi ini dapat berjalan efektif bila;
1. Informasi yang disampaikan jelas, akurat dan tidak mengandung ambiguitas yang berlebihan
2. Komunikasi yang dilakukan sekaligus memperkaya skill bawahan
3. Membuka saluran umpan balik.

d.      Fungsi Emosi
Fungsi emotif meningkat ke penerapan isi pesan, karena berkaitan dengan rasa suka tidak suka, benci dan cinta, puas atau tidak puas, kegembiraan dan kesedihan, menyenangkan atau kedekatan emosional lainnya.

4.      Manfaat Komunikasi yang Efektif dalam Dunia Bisnis
Secara umum, ada tiga tujuan komunikasi bisnis yaitu; memberi informasi (Informing) persuasi (persuading) dan melakukan kolaborasi, (collaborating) dengan audiens (pelanggan). Berikut ini adalah beberapa manfaat penting dari komunikasi yang efektif dalam dunia bisnis.

1.      Memberi Informasi
Tujuan pertama dalam komunikasi bisnis adalah memberikan informasi yang berkaitan dengan dunia bisnis kepada pihak lain, contoh seorang pemimpin perusahaan ingin mendapatkan pegawai yang diharapkan, maka Dia memasang iklan melalui mass media, memasang websitus/situs di jalur internet, dalam hal ini setiap media mempunyai kelebihan dan kekurangan dilihat dari jangkauan dan biayanya, untuk itu harus memilih media mana yang akan dipilih. Dan itu tergantung pada kebijakan perusahaan dengan melihat kemampuan internal perusahaan tersebut. Contoh yang lain misalnya sebuah Departemen Store memasang tulisan discountbesar-besaran pada produknya.

2.      Memberi Persuasi
Tujuan kedua komunikasi bisnis adalah memberikan persuasi kepada pihak lain agar apa yang disampaikan dapat dipahami dengan baik dan benar, hal ini sering dilakukan terutama yang berkaitan dengan penegasan konfi rmasi pesanan pelanggan atau negoisasi dengan pelanggan, agar kedua pihak memperoleh manfaat secara bersama-sama tanpa ada yang merasa dirugikan.

3.      Melakukan Kolaborasi
Tujuan ketiga dalam komunikasi bisnis adalah melakukan kolaborasi, atau kerja sama bisnis antara seseorang dengan orang lain, melalui jalinan komunikasi bisnis tersebut seseorang dapat dengan mudah melakukan kerja sama bisnis, saat sekarang seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi maka seseorang dapat menggunakan berbagai media telekomunikasi seperti telpon, faksimile, telpon seluler, internet surat elektronik, teleconference. Teknologi komunikasi tersebut sangat penting artinya dalam pererat kerja sama bisnis.

5.      Pengaruh Komunikasi Bisnis dalam Perusahaan
Peran Komunikasi dalam Bisnis Komunikasi bisnis adalah proses pertukaran pesan atau informasi untuk mencapai efektivitas dan efisiensi produk kerja di dalam struktur dan sistem organisasi. Dalam kegiatan komunikasi bisnis, pesan hendaknya tidak hanya sekedar informatif tetapi juga haruslah Persuasif, agar pihak lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan atau melakukan suatu perbuatan atau kegiatan.
Di era globalisasi ini, tantangan seorang manajer di masa depan relatif akan semakin sulit, karena dunia bisnis menghadapi lingkungan persaingan yang cenderung semakin turbulen. Para manajer perlu membekali diri dengan keterampilan lintas budaya, berupa kemampuan berinteraksi dengan berbagai ragam budaya, gaya manajemen / bisnis bangsa lain, maupun kerjasama tim, baik intern maupun dalam suatu aliansi strategis dengan mitra bisnis. Disini peran komunikasi bisnis menjadi semakin sangat penting, yaitu kemampuan membaca, menafsirkan laporan dan informasi dari lingkungan. Disamping menyampaikan gagasan, baik lisan maupun tertulis secara sistematik.
Keberhasilan komunikasi di dalam suatu organisasi akan ditentukan oleh kesamaan pemahaman antara orang yang terlibat dalam kegiatan komunikasi. Kesamaan pemahaman ini dipengaruhi oleh kejelasan pesan, cara penyampaian pesan, perilaku komunikasi, dan situasi (tempat dan waktu) komunikasi. Komunikasi organisasi biasanya menggunakan kombinasi cara berkomunikasi (lisan, tertulis dan tayangan) yang memungkinkan terjadinya peyerapan informasi dengan lebih mudah dan jelas. Secara empiris, pemahaman orang perihal sesuatu hal akan lebih mudah diserap dan dipahami jika sesuatu tersebut diperlihatkan dibanding hanya diperdengarkan atau dibacakan. Dan akan lebih baik lagi hasilnya jika sesuatu yang dikomunikasikan tersebut, selain diperlihatkan juga sekaligus dipraktikkan.
Hasil studi tentang perilaku bisnis di kalangan eksekutif menunjukkan fakta bahwa kemampuan berkomunikasi merupakan unsur pokok di antara berbagai faktor personal yang diperlukan untuk mempromosikan menejemen organisasi atau mengatasi konflik menejemen (Boove and Thill, 2002). Dengan kata lain, kemampuan berkomunikasi efektif sekaligus juga merupakan salahsatu ciri mutu SDM karyawan. Istilahnya, komunikasi efektif dalam suatu organisasi dapat diumpamakan seperti darah dalam tubuh dan kunci kesuksesan.
Dengan kata lain, tanpa komunikasi suatu organisasi tidak dapat berfungsi optimal. Pertanyaannya adalah mengapa? Jawabannya ialah karena organisasi merupakan kumpulan orang yang memerlukan jasa komunikasi untuk meraih kesuksesan berorganisasi. Kegiatan komunikasi ini mencakup proses berinteraksi-mereaksi, tukar menukar informasi atau gagasan atau rencana, mengusulkan, mengkordinasi, dan membuat keputusan.

6.      Pentingnya Kemampuan Komunikasi Bisnis
Komunikasi bisnis yang baik dapat menentukan keberhasilan suatu perusahaan. Hal ini perlu diperhatikan oleh setiap manajer perusahaan. Tantangan seorang manajer di masa depan relatif akan semakin sulit, yang menuntut kemampuan untuk mengkomunikasikan ide gagasan dan tujuan dalam lingkungan organisasinya serta bagaimana menyampaikan produk atau jasa yang dimilikinya kepada pelanggan. Di sisi lain, proses manajemen, adalah suatu aktivitas komunikasi. Terdapat 6 kendala yang mungkin muncul saat manajer mengkomunikasikan bisnis organisasinya, yaitu :
a.       Struktur komunikasi yang buruk
Struktur komunikasi adalah faktor esensial, yang menentukan baik-buruknya komunikasi bisnis. Tidak penting apakah audiencenya hanya satu orang atau ribuan orang dan sekalipun di tengah bisingnya lingkungan bisnis dan pemasaran, pesan yang disampaikan haruslah terdengar dan dimengerti.

b.      Penyampaian yang lemah
Tidak menjadi menjadi masalah, apakah pesan itu penting atau impresif. Namun apabila disampaikannya tanpa “sentuhan yang kuat”, hasilnya tidak akan dapat menyakinkan orang lain sesuai harapan. Disamping itu, meskipun telah dilakukan “sentuhan “ yang sudah tepat ternyata seringkali juga masih memerlukan waktu untuk mendapatkan respons. Dengan demikian, pesan yang kuat, tidak boleh seperti lawakan yang tidak lucu. Pesan yang disampaikan haruslah ‘menyentuh’ secara kuat dan telak, tidak sekedar mengelus-elus atau mengingatkan.

c. Penggunaan media yang salah
Perlu untuk mempertimbangkan siapa, dari kalangan atau status sosial mana dan karakteristik unik lainnya dari sasaran yang kita tuju, sehingga kita dapat memilih media yang tepat. Jika pesan yang disampaikan sangat kompleks, berikanlah ruang agar audience kita dapat mencerna pesan tersebut secara lebih leluasa, sesuai kecepatan mereka, seperti di kamar tidur, kamar mandi, televise, radio, majalah, koran dan lain sebagainya.

d. Pesan yang campur aduk
Pesan yang campur aduk, hanya akan menimbulkan kebingungan atau bahkan cemoohan dari audience. Seperti, larangan untuk memberikan hadiah kepada klien, tetapi pada saat yang sama memberikan pengecualian untuk klien-klien baru atau pelanggan VIP yang berpotensi besar pada bisnis perusahaan. Sementara, kriteria dari klien potensial atau pelanggan VIP tersebut tidak dirinci secara jelas.

e.       Salah Audience
 Topik yang dipilih hendaknya relevan dan sesuai dengan ekspektasi audience. Sebagai contoh, misalnya dalam event pertemuan antara wakil dari Pemerintah dan Pengusaha, namun dalam presentasi disajikan tentang analisis situasi politik dan pemerintahan, sedangkan para pengusaha, sebenarnya lebih mengharapkan penjelasan bagaimana tindakan atau langkah-langkah konkrit yang diambil pemerintah untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif.

f. Lingkungan yang mengganggu
Lingkungan yang mengganggu jelas merupakan kendala dalam komunikasi, sehingga pesan yang disampaikan tidak dapat diterima / didengar secara optimal. Seperti Suara penyaji yang tidak cukup terdengar oleh Audience, Suara keras dari luar ruangan, (seperti raungan sirine ambulan atau suara lalu lintas yang padat ), Bunyi handphone dari kantong audience, Interupsi, Sesi bicara yang menegangkan, dsb. Oleh karena itu, perlunya pemilihan tempat yang tepat serta upaya agar audience fokus dengan pesan yang disampaikan.
Kendala komunikasi bisnis dapat bermacam-macam, namun dengan kehati-hatian serta kecermatan, sebagian kendala tersebut akan dapat diatasi. Presentasi yang disampaikan akan lebih bermakna dengan kendala yang diminimalisir, sehingga pesan yang disampaikan dapat memberikan efek yang diharapkan.


BAB III
KESIMPULAN

Komunikasi bisnis adalah proses pertukaran pesan atau informasi untuk mencapaiefektivitas dan efisiensi produk kerja di dalam struktur dan sistem organisasi. Dalam kegiatan komunikasi bisnis, pesan hendaknya tidak hanya sekedar informatif tetapi juga haruslah Persuasif, agar pihak lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan atau melakukan suatu perbuatan atau kegiatan. Di era globalisasi ini, tantangan seorang manajer di masa depan relatif akan semakinsulit, karena dunia bisnis menghadapi lingkungan persaingan yang cenderung semakin ketat. Para manajer perlu membekali diri dengan keterampilan lintas budaya, berupa kemampuan berinteraksi dengan berbagai ragam budaya, gaya manajemen / bisnis bangsa lain, maupun kerjasama tim, baik intern maupun dalam suatu aliansi strategis dengan mitra bisnis. Peran komunikasi bisnis menjadi semakin sangat penting,yaitu kemampuan membaca, menafsirkan laporan dan informasi dari lingkungan.Disamping menyampaikan gagasan, baik lisan maupun tertulis secara sistematik. Di era ebisnis, komunikasi berkembang menjadi suatu bisnis tersendiri. Perkembangan sistim informasi dan teknologi mempercepat proses globalisasi dan memberikan peluang bagi dunia usaha di Indonesia untuk mengembangkan usahanya,melalui berbagai kesempatan menjalin relasi bisnis, pemasaran produk ataupun lainnya, dan efektivitas bisnis pada umumnya dibicarakan dalam konteks aktivitas manajemen dan kelompok atau organisasi. Efektivitas selalu mengacu kepada tujuan organisasi dan sekaligus kepada kelangsungan hidup organisasi. Oleh karena itu efektivitas harus diukur dengan produk dari suatu organisasi yang mencakup jumlah dan mutunya diukur dengan aspek kemanusiaan baik yang menjadi unsur penggerak maupun unsur konstituen dari organisasi. Efektivitas juga diukur dengan bagaimana anggota suatu organisasi dikembangkan kemampuannya dalam melakukan tugas-tugas organisasi.
Untuk itu efektivitas tidak boleh lepas dari: faktor tujuan, faktor manusia, faktor nilai-nilai dan faktor sistem organisasi itu sendiri yang dihubungkan  dengan kondisi waktu, target, jumlah, dan kualitas. Dengan demikian efektivitas ternyata bersifat multidimensional, sehingg strategi yang dipilih untuk meningkatkan efektivitas tergantung pada kekhususan atau spesifikasi faktor dari permasalahan yang hendak dipecahkan. Yang perlu digaris bawahi bahwa sesuatu yang efektif belum tentu efisien, demikian sebaliknya sesuatu yang efisien belum tentu efektif, namun perlu ditegaskan kembali bahwa jika sesuatu kegiatan atau aktivitas telah terbukti ketidak efektifannya maka tidak perlu lagi mempersoalkan efisiensinya.



DAFTAR PUSTAKA
Purwanto, Djoko. Drs M.B.A. 2006. Komunikasi Bisnis. Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga
Nurrohim, Hassa. Lina Anatan. Efektivitas Komunikasi Dalam Organisasi. Jurnal Manajemen, Vol.7, No.4 Mei 2009.
http://www.pendidikanekonomi.com/2016/03/pentingnya-komunikasi-yang-efektif.html

Selasa, 10 Oktober 2017

Review Jurnal

Dalam rangka melaksanakan tugas softskill Komunikasi Bisnis, kami melakukan review pada jurnal berikut ini:

STUDI KASUS TENTANG MODEL KOMUNIKASI ORGANISASI PENYELIA DALAM MEMBANGUN TEAMWORK DI DIVISI BROADBAND & DIGITAL SALES PT TELKOMSEL BRANCH AMBON, INDONESIA

A CASE STUDY ON THE MODEL OF COMMUNICATIONS OF ORGANIZATIONAL SUPERVISORS IN BUILDING TEAMWORK IN BROADBAND & DIGITAL SALES DIVISION OF PT TELKOMSEL AMBON, INDONESIA

Lucy Pujasari Supratman dan M. Haidy Zulfikar Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Universitas Telkom me_gutschullerin@yahoo.com

ABSTRAK

Divisi PT Telkomsel Branch Ambon bergerilya di lapangan untuk mempromosikan product knowledge yaitu divisi broadband and digital sales. Divisi tersebut memiliki tugas utama untuk memantau penjualan serta pembelian produk M-KIOS data dan paket internet. Penyelia divisi broadband and digital sales dituntut memiliki keterampilan komunikasi organisasi agar teamwork bersama para staf divisi tersebut menjadi solid. Metode penelitian yang dipakai adalah studi kasus selama satu bulan (Juni-Juli 2015) dengan melakukan observasi lapangan serta mewawancarai penyelia Divisi Broadband and Digital Sales PT Telkomsel Branch Ambon, Bapak Victor Kwando. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan mengusung spirit the Telkomsel way, penyelia berhasil mentrasfer pesan filosofis teamwork kepada para staf dengan menggunakan komunikasi terbuka atasan-bawahan. Penyelia divisi broadband and digital sales membentuk keterbukaan komunikasi dalam struktur formal dan informal keorganisasian. Keterbukaan ini membuahkan kepercayaan bagi keefektifan komunikasi organisasi dalam meminimalkan kesalahpahaman di antara semua anggota staf divisi broadband and digital sales. Kata Kunci: penyelia divisi, komunikasi organisasi, Teamwork

ABSTRACT

PT Telkomsel Division of Ambon Branch working hand in hand in the field to promote a kroduct nowledge of Telkomsel, i.e. Broadband and Digital Sales Division. The division has a major task in monitoring the sale and purchase of products M-KIOSK Data and Internet package. The supervisors of Broadbad and Digital Sales Division is demanded to have an organizational communication skill to create the solidity of teamwork staff in this division. The research method is a descriptive case study. It has run for one month (June-July 2015) using the method of observation and interview with the Broadband and Digital Sales Supervisor, Mr. Victor Kwando. The results show that by carrying the spirit of The Telkomsel Way, the supervisors can be very successful in transferring teamwork philosophical message to the staff by using open communication between supervisors and staff. The supervisors of Broadband and Digital Sales have established an open communication within formal and informal organizational structure. This openness leads to credence to the effectiveness of organizational communication in minimizing misunderstandings among all staff members of Broadband and Digital Sales Division. Keywords: Supervisor of Division, Organizational Communication, Teamwork

PENDAHULUAN

Manusia berperan sebagai anggota organisasi yang saling berbagi informasi. Informasi adalah media komunikasi yang menjembatani efektifnya berorganisasi. Komunikasi organisasi pimpinan dalam sebuah perusahaan merupakan hal utama bagi keefektifan kinerja karyawan. Karyawan perusahaan tidak akan dapat mencapai sebuah kekompakan dalam teamwork pada sebuah divisi bila pimpinan gagal mengomunikasikan visi misi perusahaan. Penelitian yang telah dilakukan pada PT Telkomsel Branch Ambon telah membuktikan keefektifan komunikasi organisasi penyelia Divisi Broadband and Digital Sales Telkomsel untuk mendorong kekompakan komunikasi organisasi tersebut. PT Telkomsel Branch Ambon merupakan salah satu anak perusahaan PT Telkom Indonesia yang bergerak dalam bidang telekomunikasi. Perusahaan ini mempunyai beragam produk yang sesuai dengan kebutuhan segmentasi konsumen. PT Telkomsel Branch Ambon merajai produk telekomunikasi yang ada di Ambon karena tingginya loyalitas konsumen yang menggunakan produk Telkomsel. Divisi PT Telkomsel Branch Ambon yang bergerilya di lapangan untuk mempromosikan product knowledge Telkomsel adalah divisi broadband and digital sales yang memiliki tugas utama dalam memantau penjualan serta pembelian produk M-KIOS data, paket internet, dan lainnya. Seorang penyelia di divisi broadband and digital sales dituntut memiliki komunikasi yang baik untuk selalu menggairahkan semangat stafnya agar dapat berkontribusi pada perusahaan. Hal ini karena perusahaan Telkomsel memiliki visi misi luhur yang disimbolkan dalam bentuk logo Telkomsel sebagaimana terlihat pada gambar 1. Nilai filosofi logo Telkomsel terdiri atas:
1. Lingkaran elips horizontal yang membelah heksagon tersebut melambangkan penyelenggara jasa telekomunikasi domestik (PT. Telkom).
2. Lingkaran elips vertikal melambangkan penyelenggaraan jasa telekomunikasi internasional di Indonesia (PT Indosat) sebagai salah satu “The Founding Father”.
3. Heksagon merah melambangkan seluler. Warna merah sendiri bermakna Telkomsel berani dan siap menyongsong masa depan dengan segala kemungkinan.
4. Heksagon abu-abu kehitaman melambangkan Telkomsel selalu siap mengayomi dan terus memenuhi kebutuhan pelanggan, sedangkan warna abu-abu adalah warna logam yang berarti kesejukan, luwes, dan fleksibel.
5. Pertemuan dua lingkaran berwarna putih di atas heksagon merah melambangkan bentuk huruf ‘t’ sebagai huruf awal Telkomsel.
6. Warna putih pada huruf ‘t’ tersebut mengandung makna keberanian, keterbukaan, dan transparansi. Staf divisi broadband dan digital sales tentu tidak akan dapat memahami filosofi logo perusahaan Telkomsel tersebut bila penyelia divisi tidak terampil mengomunikasikan kepada bawahannya. Padahal, filosofi logo sebuah perusahaan dapat menjadi obor kekompakan (teamwork) bagi seluruh anggota organisasi setelah memahami tujuan, visi, dan misi yang diemban perusahaan. Struktur organisasi PT Telkomsel Branch Ambon dijelaskan pada gambar 2. Setiap divisi memiliki penyelia, staf, dan administrator masing-masing. Mereka memiliki tugas, tanggung jawab, serta wewenang yang berbeda-beda sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pihak Telkomsel Regional Papua Maluku yang berlokasi di Jayapura.



Gambar 1 Logo Telkomsel
           
Peran seluruh penyelia yang berada pada tiap divisi harus dapat mentransfer nilai perusahaan pada seluruh stafnya agar dapat menjaga kekompakan (teamwork) setiap divisinya. Pace dan Faules (2006) mengusung strategistrategi untuk meningkatkan kinerja bagi seluruh staf divisi yang tentunya tidak lepas dari peran penyelia sebagai goal keeper bagi keefektifan komunikasi organisasi Divisi Broadband dan Digital Sales PT Telkomsel Branch Ambon. Strategi tersebut di antaranya kepercayaan, pembuatan keputusan bersama, kejujuran, keterbukaan terhadap komunikasi ke bawah, dan mendengarkan dalam komunikasi ke atas. Ruang lingkup penelitian ini dibatasi dengan hanya membahas model komunikasi penyelia pada para staf di Divisi Broadband and Digital Sales PT Telkomsel Branch Ambon yang berlokasi di kantor Telkomsel Branch Ambon, Jalan DR. JB. Sitanala No. 9A, Ambon, Indonesia.

Pembatasan penelitian tersebut bertujuan agar penelitian ini fokus pada penggalian makna pimpinan divisi (baca: penyelia) dalam mengomunikasikan kefektifan isi pesannya pada staf divisi broadband and digital sales. Tangkilisan (2005) berpendapat bahwa aset organisasi yang paling penting dan harus diperhatikan oleh manajemen adalah manusia sebagai anggota dalam sebuah organisasi. Oleh sebab itu, fokus pertanyaan penelitian ini adalah “Bagaimana model komunikasi organisasi penyelia divisi broadband and digital sales dalam berkomunikasi dengan para staf Divisi Broadband and Digital Sales di PT Telkomsel Ambon?”

  
METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kasus. Mulyana (2005: 201) menjelaskan bahwa “Studi kasus adalah uraian dan penjelasan komprehensif mengenai berbagai aspek seorang individu, suatu kelompok, suatu organisasi (komunitas), suatu program atau suatu situasi sosial.” Peneliti studi kasus berupaya menelaah sebanyak mungkin data mengenai subjek yang diteliti.


Gambar 2 Struktur organisasi Telkomsel Branch Ambon
Sumber : Modifikasi Peneliti dari Hasil Data Olahan Penelitian

Dengan mempelajari semaksimal mungkin seorang individu, suatu kelompok, atau suatu kejadian, peneliti dapat memberikan pandangan yang lengkap dan mendalam mengenai subjek yang diteliti. Peneliti melakukan wawancara dengan penyelia divisi broadband and digital sales yang bernama Victor Kwando. Selain itu, peneliti juga melakukan observasi bersama para staf divisi broadband and digital sales selama satu bulan, yaitu 1 Juni – 10 Juli 2015.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Setiap organisasi harus memiliki tujuan dengan cerminan sasaran serta target yang dilakukan untuk jangka pendek dan jangka panjang. Tidak mungkin jika organisasi hanya terdiri atas satu individu yang ingin mencapai tujuannya sendiri. Organisasi yang terdiri atas kumpulan individu tersebut harus memiliki keseragaman visi misi. Menurut Rogers dan Rogers (1976), organisasi didefinisikan sebagai suatu kumpulan atau sistem individu yang bersama-sama melalui suatu hierarki pangkat dan pembagian kerja untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan tersebut dapat diperoleh bila para anggotanya berlaku sesuai dengan peranan yang diharapkan oleh sistem organisasi tersebut. Penyelia divisi broadband and digital sales dapat mengomunikasikan informasi tentang nilai budaya organisasi PT Telkomsel dengan baik. Para staf divisi broadband and digital sales bekerja dengan sistematis dan kompak dalam teamwork untuk meningkatkan profit perusahaan. Penyelia membuka komunikasi transparan agar atmosfer divisi broadband and digital sales dapat berjalan efektif.

Penyelia PT Telkomsel Ambon menggunakan model komunikasi terbuka tentang budaya organisasi yang berjalan selama ini. Menurut wawancara dengan Victor, The Telkomsel Way adalah pengejawantahan dari filosofi untuk selalu memberikan yang terbaik (always the best) dengan berpaku pada landasan nilai GREAT (integrity, respect, enthusiasm, loyalty, dan totality). Spirit solid, speed, smart merupakan budaya organisasi yang wajib diemban karyawan agar tercipta great people, great strategy, great innovation bagi kesuksesan PT Telkomsel di seluruh Indonesia. Nilai budaya organisasi The Telkomsel Way dapat dikomunikasikan dengan sangat efektif oleh penyelia Divisi Broadband and Digital Sales PT Telkomsel Ambon pada staf divisinya. Para staf dapat menginternalisasi nilai tersebut sebab penyelia menggunakan komunikasi organisasi terbuka yang transparan. Mereka akhirnya dapat memahami informasi yang dikomunikasikan penyelia tentang nilai The Telkomsel Way dan mengintegrasikannya dalam job description mereka untuk mendukung keberhasilan penyelia dalam divisi broadband and digital sales. Tugas-tugas tersebut yaitu:

Analisis Daerah Operasional
1. Menentukan POI (Point of Interest) tiap-tiap WOK.
2. Melakukan survei dan analisis coverage & kualitas network.
3. Melaporkan jumlah channel penjualan, termasuk RS, outlet telco, dan MDL.
4. Menentukan strategi penjualan yang sesuai untuk setiap WOK.

Indirect
1. Melakukan back checking dan atau tandem selling ke outlet, MDL, open TO, dan Mogi.
2. Menghadiri dan menyupervisi briefing pagi di SBO.
3. Memberikan saran, motivasi, dan strategi penjualan bundling, preload, dan VAS ke sales force.
4. Mendukung dan menyupervisi performansi program sales broadband dan VAS.
5. Melakukan validasi outlet register di branch Ambon.
6. Menyupervisi performansi penjualan perdana bundling & preload dari outlet.
7. Menganalisis revenue, recharge, CB recharge, dan SCN.
8. Menyusun dan mengawasi alokasi budget program area.
9. Melakukan tes paket internet Telkomsel.

Direct
1. Menentukan lokasi direct selling produk Broadband dan VAS yang dilakukan oleh Mogi.
2. Menentukan jumlah Mogi yang diperlukan setiap WOK.
3. Memberikan pengarahan dan edukasi kepada Mogi mengenai produkproduk Broadband dan VAS.
4. Mengawasi kinerja direct selling Mogi untuk penjualan Broadband dan VAS.
5. Menyusun dan mengawasi kerja sama dengan MDL untuk menjual produk Broadband atau VAS yang di-bundling dengan device.

Event
1.  Mengajukan RAB untuk event dan sponsorship.
2.  Menyusun timeline event.
3.  Menyupervisi performa event/sponsorship.
4.  Mendesain promosi event/sponsorship.
5. Menyusun dan mengurus kontrak BAK (Berita Acara Kesepakatan) dan PKS (Perjanjian Kerja Sama).

Pace dan Faules (2006) menjelaskan bahwa pemahaman mengenai kecukupan informasi memberikan petunjuk kepada para anggota organisasi mengenai aspek-aspek organisasi yang merupakan salah satu bagian dari iklim komunikasi organisasi. Komunikasi adalah sarana simbolis yang dipergunakan manusia untuk memahami serta memengaruhi dunia sosial mereka (organisasi) melalui alur informasi. Manusia mengumpulkan informasi mentah (raw information) dari lingkungan sosialnya, memproses data informasi tersebut untuk dicerna, hingga menghasilkan pemahaman tentang beragamnya fenomena organisasi dan beradaptasi pada segala kemungkinan yang terjadi. Mereka membentuk pesan, bertukar, dan merespons pesan untuk menghasilkan kesamaaan makna dalam dunia organisasi yang dinamis.

Supratman (2011) mengatakan bahwa dengan pengaturan ini seorang pemimpin akan fokus pada pengembangan individu sebagai anggota organisasi. Pengaruh tersebut akan menumbuhkan pula perhatian dan pengembangan relasi di antara para bawahan. Kondisi ini akan membuat karyawan menaruh rasa hormat kepada pemimpin. Melalui manajemen kepemimpinan tersebut, feedback yang akan diterima oleh perusahaan dari para karyawannya adalah pengabdian tulus, loyal, dan terus bekerja keras memajukan perusahaan. Penyelia divisi berhasil mengelola komunikasi organisasi yang baik dengan mentransparansikan informasi nilai The Telkomsel Way bagi kesolidan anggota divisi. Bila penyelia tidak berhasil menyampaikan komunikasi kepada para staf tentang nilai The Telkomsel Way, pencapaian tujuan visi misi perusahaan tidak akan tercapai. Terpenuhinya informasi yang memadai (sebagai proses penyaluran-pengumpulan-pengiriman-pemaknaan pesan) adalah sebuah indikasi bagi para anggota organisasi untuk mengetahui sejauh mana tingkat kepahaman kinerja mereka dalam sistem organisasi. Penyelia memegang tampuk pionir tertinggi sebagai anutan bagi para bawahan dalam menyinergikan atmosfer suatu organisasi untuk mencapai keselerasan spirit The Telkomsel Way.

Keselarasan pemikiran penyelia dan staf divisi diperlukan agar keterbukaan komunikasi serta kerja sama tercipta dalam visi misi organisasi. Perilaku komunikatif tersebut berupa keinginan ‘tulus’’ mereka untuk menanyakan pertanyaan yang relevan dan mendiskusikan maksud masing-masing anggota secara terbuka dan jujur. Selain itu, Pace dan Faules (2006) juga mengusung strategi-strategi untuk meningkatkan kinerja bagi seluruh anggota organisasi yang tentunya tidak lepas dari peran atasan sebagai goal keeper efektivitas komunikasi berorganisasi.

1.      Kepercayaan
Personel di semua tingkat harus berusaha keras untuk mengembangkan dan mempertahankan hubungan yang di dalamnya terdapat kepercayaan, keyakinan , dan kredibilitas yang didukung pernyataan dan tindakan.
2.      Pembuatan keputusan bersama
Para karyawan di semua tingkatan dalam organisasi harus diajak berkomunikasi dan berkonsultasi mengenai semua masalah dalam semua wilayah kebijakan organisasi, yang relevan dengan kedudukan mereka. Para pegawai di semua tingkat harus diberi kesempatan berkomunikasi dan berkonsultasi dengan manajemen di atas mereka agar berperan serta dalam proses pembuatan keputusan dan penentuan tujuan. Akan tetapi, umumnya pimpinan mau memberikan informasi ke bawah bila merasa bahwa pesan itu penting bagi penyelesaian tugas. Apabila suatu pesan tidak relevan dengan tugas, pesan itu tetap dipegangnya.
3.      Kejujuran.
Suasana umum yang diliputi kejujuran dan keterusterangan harus mewarnai hubungan-hubungan dalam organisasi dan para pegawai mampu mengatakan ”apa yang ada dalam pikiran mereka“ tanpa mengindahkan apakah mereka berbicara kepada teman sejawat, bawahan, atau atasan.
4.      Keterbukaan terhadap komunikasi ke bawah
Komunikasi ke bawah menunjukkan arus pesan yang mengalir dari para atasan atau para pemimpin kepada bawahannya. Komunikasi ke bawah bertujuan untuk mengubah sikap, membentuk pendapat, mengurangi ketakutan dan kecurigaan yang timbul karena salah informasi, mencegah kesalahpahaman yang disebabkan kurangnya informasi, dan mempersiapkan anggota organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.


Gambar 3 Menggambarkan keterhubungan antara ‘komunikasi, informasi serta organisasi (Sumber: Kreps,1986)

5.      Mendengarkan dalam komunikasi ke atas
Komunikasi ke atas ini bertujuan untuk memberikan umpan balik, saran, dan mengajukan pertanyaan. Komunikasi ini mempunyai efek pada penyempurnaan moral dan sikap karyawan.
6.      Perhatian pada tujuan-tujuan berkinerja tinggi
Personel di semua tingkat dalam organisasi harus menunjukkan suatu komitmen terhadap tujuan-tujuan berkinerja tinggi-produktivitas, kualitas tinggi, biaya rendah, dan menunjukkan perhatian besar pada anggota organisasi lainnya.

Tujuan utama peran seorang atasan sebagai pembina seluruh bawahannya telah berhasil mempersatukan individu yang tergabung dalam organisasi tersebut. Dengan pendekatan komunikasi transparan tidak berjarak, komunikasi organisasi dalam lingkungan organisasi akan kondusif. Penyelia akan berkomunikasi efektif dalam memberikan feedback positif terhadap bawahannya dan seluruh staf divisi sehingga dapat menjalin hubungan saling menghargai dan men-dukung dengan rekan kerja satu staf lainnya. Menarik untuk mengutip rahasia sukses Wiliam Somerset Maugham (dalam Ho, 2006): “The common idea that success spoils people by making them vain, egoistic, and self-complacent is erroneous; on the contrary, it makes them, for the most part, humble, tolerant, and kind. Failure makes people bitter and cruel.”

Maugham menjabarkan kekeliruan mengenai suatu anggapan bahwa orang sukses akan bersikap angkuh, egois, dan merasa paling benar. Padahal, pada kenyataan di lapangan, sebagian besar di antara orang-orang yang telah berhasil meraih kesuksesan itu semakin rendah hati, sangat menghargai orang lain, dan berbudi baik. Justru, kegagalanlah yang menyebabkan seseorang menjadi bengis dan kejam. Jadi, saat bawahan mengalami kegagalan, seyogianya atasan merangkul bawahan tersebut. Sebagai seorang top executive yang sukses, tak ada salahnya mengutip Maugham untuk diaplikasikan pada seluruh bawahannya. Dengan memiliki sifat rendah hati, saling menghargai orang lain, dan berbudi baik dalam interaksi antara anggota organisasi, kesuksesan bersama pada kemajuan perusahaan pun akan dengan mudah tercapai. Selain itu, hal tersebut sangat relevan bagi pembentukan karakter seluruh anggota organisasi untuk saling membantu dan mengingatkan kesalahan.

SIMPULAN

Keserasian hubungan penyelia dan staf di divisi broadband and digital sales sangat kental terasa dalam mengembangkan relasi organisasional mereka yang menjunjung nilai The Telkomsel Way bagi setiap anggota. Penyelia divisi broadband and digital sales membentuk keterbukaan komunikasi dalam struktur formal dan informal keorganisasian. Keterbukaan ini membuahkan kepercayaan bagi keefektifan komunikasi organisasi dalam meminimalkan kesalahpahaman di antara semua anggota staf divisi. Iklim keterbukaan dan konsep transparansi dalam komunikasi organisasi akan terealisasi saat penyelia bersikap demokratis terhadap para staf. Penyelia Telkomsel selalu berusaha membentuk keterbukaan komunikasi dalam struktur formal dan informal keorganisasian agar para staf dalam divisinya dapat memberikan kinerja teamwork terbaik untuk PT Telkomsel Branch Ambon. Nilai The Telkomsel Way dapat menjadi semangat serta motivasi hidup agar realisasi nilai The Telkomsel Way dapat memajukan PT Telkomsel Branch Ambon. Atmosfer untu saling mendukung dalam teamwork akan mendorong anggota staf satu sama lain untuk saling membantu demi keberhasilan organisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Ho, Andrew dan Aa Gym. (2006). The Power of Network Marketing: Hikmah Silaturahmi dalam Bisnis. Bandung: MQS Publishing.
Kreps, Gary L. (1986). Organizational Communication. New York: Longman Inc.
Mulyana, Deddy. (2005). Metode Penelitian Komunikasi: Contohcontoh Penelitian Kualitatif Dengan Pendekatan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Pace, R. Wayne dan Don F. Faules. (2006). Komunikasi Organisasi: Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Rogers, E., and R. Agarwala-Rogers. (1976). Communication in Organizations. New York: Free Press.
Supratman, Lucy Pujasari. (2011). Komunikasi Terbuka Pimpinan bagi Efektifitas Kinerja Komunikasi Organisasi. Ragam Komunika Vol 5 No1.
www.telkomsel.ac.id. Diakses pada tanggal 1 September 2015 pukul 1:48.


REVIEW

Menurut kami, cara berkomunikasi yang dilakukan oleh pemimpin PT Telkomsel Ambon kepada para staf/karyawan sudah baik. Pemimpin PT Telkomsel Ambon menggunakan model komunikasi terbuka tentang budaya organisasi yang berjalan selama ini. Pemimpin PT Telkomsel Ambon juga membentuk keterbukaan komunikasi dalam struktur formal atau informal keorganisasian. Keterbukaan ini membuahkan kepercayaan bagi keefektifan komunikasi organisasi dalam meminimalkan kesalahpahaman di antara semua anggota staf divisi. Dan pemimpin divisi telah berhasil mengelola komunikasi organisasi yang baik dengan mentransparansikan informasi nilai The Telkomsel Way bagi kesolidan anggota divisi. Seperti yang ada pada jurnal diatas, tujuan utama peran seorang atasan sebagai pembina seluruh bawahannya telah berhasil mempersatukan individu yang tergabung dalam organisasi tersebut. Dengan pendekatan komunikasi transparan tidak berjarak, komunikasi organisasi dalam lingkungan organisasi akan kondusif. Pemimpin akan berkomunikasi efektif dalam memberikan feedback positif terhadap bawahannya dan seluruh staf divisi sehingga dapat menjalin hubungan saling menghargai dan men-dukung dengan rekan kerja satu staf lainnya.

Sumber Jurnal:
https://www.researchgate.net/publication/315480442_STUDI_KASUS_TENTANG_MODEL_KOMUNIKASI_ORGANISASI_PENYELIA_DALAM_MEMBANGUN_TEAMWORK_DI_DIVISI_BROADBAND_DIGITAL_SALES_PT_TELKOMSEL_BRANCH_AMBON_INDONESIA