Dalam rangka melaksanakan tugas softskill Komunikasi
Bisnis, kami melakukan review pada jurnal berikut ini:
STUDI KASUS TENTANG MODEL
KOMUNIKASI ORGANISASI PENYELIA DALAM MEMBANGUN TEAMWORK DI DIVISI BROADBAND
& DIGITAL SALES PT TELKOMSEL BRANCH AMBON, INDONESIA
A CASE STUDY ON THE MODEL OF
COMMUNICATIONS OF ORGANIZATIONAL SUPERVISORS IN BUILDING TEAMWORK IN BROADBAND
& DIGITAL SALES DIVISION OF PT TELKOMSEL AMBON, INDONESIA
Lucy Pujasari Supratman dan M. Haidy Zulfikar Prodi
Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Universitas Telkom me_gutschullerin@yahoo.com
ABSTRAK
Divisi PT Telkomsel Branch Ambon bergerilya di
lapangan untuk mempromosikan product knowledge yaitu divisi broadband and
digital sales. Divisi tersebut memiliki tugas utama untuk memantau penjualan
serta pembelian produk M-KIOS data dan paket internet. Penyelia divisi
broadband and digital sales dituntut memiliki keterampilan komunikasi
organisasi agar teamwork bersama para staf divisi tersebut menjadi solid.
Metode penelitian yang dipakai adalah studi kasus selama satu bulan (Juni-Juli
2015) dengan melakukan observasi lapangan serta mewawancarai penyelia Divisi
Broadband and Digital Sales PT Telkomsel Branch Ambon, Bapak Victor Kwando.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan mengusung spirit the Telkomsel way,
penyelia berhasil mentrasfer pesan filosofis teamwork kepada para staf dengan
menggunakan komunikasi terbuka atasan-bawahan. Penyelia divisi broadband and
digital sales membentuk keterbukaan komunikasi dalam struktur formal dan
informal keorganisasian. Keterbukaan ini membuahkan kepercayaan bagi
keefektifan komunikasi organisasi dalam meminimalkan kesalahpahaman di antara
semua anggota staf divisi broadband and digital sales. Kata Kunci: penyelia divisi,
komunikasi organisasi, Teamwork
ABSTRACT
PT Telkomsel Division of Ambon Branch working hand
in hand in the field to promote a kroduct nowledge of Telkomsel, i.e. Broadband
and Digital Sales Division. The division has a major task in monitoring the
sale and purchase of products M-KIOSK Data and Internet package. The
supervisors of Broadbad and Digital Sales Division is demanded to have an
organizational communication skill to create the solidity of teamwork staff in
this division. The research method is a descriptive case study. It has run for
one month (June-July 2015) using the method of observation and interview with
the Broadband and Digital Sales Supervisor, Mr. Victor Kwando. The results show
that by carrying the spirit of The Telkomsel Way, the supervisors can be very
successful in transferring teamwork philosophical message to the staff by using
open communication between supervisors and staff. The supervisors of Broadband
and Digital Sales have established an open communication within formal and informal
organizational structure. This openness leads to credence to the effectiveness
of organizational communication in minimizing misunderstandings among all staff
members of Broadband and Digital Sales Division. Keywords: Supervisor of
Division, Organizational Communication, Teamwork
PENDAHULUAN
Manusia berperan sebagai anggota organisasi yang
saling berbagi informasi. Informasi adalah media komunikasi yang menjembatani
efektifnya berorganisasi. Komunikasi organisasi pimpinan dalam sebuah
perusahaan merupakan hal utama bagi keefektifan kinerja karyawan. Karyawan
perusahaan tidak akan dapat mencapai sebuah kekompakan dalam teamwork pada
sebuah divisi bila pimpinan gagal mengomunikasikan visi misi perusahaan.
Penelitian yang telah dilakukan pada PT Telkomsel Branch Ambon telah
membuktikan keefektifan komunikasi organisasi penyelia Divisi Broadband and
Digital Sales Telkomsel untuk mendorong kekompakan komunikasi organisasi
tersebut. PT Telkomsel Branch Ambon merupakan salah satu anak perusahaan PT
Telkom Indonesia yang bergerak dalam bidang telekomunikasi. Perusahaan ini
mempunyai beragam produk yang sesuai dengan kebutuhan segmentasi konsumen. PT
Telkomsel Branch Ambon merajai produk telekomunikasi yang ada di Ambon karena
tingginya loyalitas konsumen yang menggunakan produk Telkomsel. Divisi PT
Telkomsel Branch Ambon yang bergerilya di lapangan untuk mempromosikan product
knowledge Telkomsel adalah divisi broadband and digital sales yang memiliki
tugas utama dalam memantau penjualan serta pembelian produk M-KIOS data, paket
internet, dan lainnya. Seorang penyelia di divisi broadband and digital sales
dituntut memiliki komunikasi yang baik untuk selalu menggairahkan semangat
stafnya agar dapat berkontribusi pada perusahaan. Hal ini karena perusahaan
Telkomsel memiliki visi misi luhur yang disimbolkan dalam bentuk logo Telkomsel
sebagaimana terlihat pada gambar 1. Nilai filosofi logo Telkomsel terdiri atas:
1. Lingkaran elips horizontal yang
membelah heksagon tersebut melambangkan penyelenggara jasa telekomunikasi
domestik (PT. Telkom).
2. Lingkaran elips vertikal
melambangkan penyelenggaraan jasa telekomunikasi internasional di Indonesia (PT
Indosat) sebagai salah satu “The Founding Father”.
3. Heksagon merah melambangkan
seluler. Warna merah sendiri bermakna Telkomsel berani dan siap menyongsong
masa depan dengan segala kemungkinan.
4. Heksagon abu-abu kehitaman
melambangkan Telkomsel selalu siap mengayomi dan terus memenuhi kebutuhan
pelanggan, sedangkan warna abu-abu adalah warna logam yang berarti kesejukan,
luwes, dan fleksibel.
5. Pertemuan dua lingkaran berwarna
putih di atas heksagon merah melambangkan bentuk huruf ‘t’ sebagai huruf awal
Telkomsel.
6. Warna putih pada huruf ‘t’
tersebut mengandung makna keberanian, keterbukaan, dan transparansi. Staf divisi
broadband dan digital sales tentu tidak akan dapat memahami filosofi logo
perusahaan Telkomsel tersebut bila penyelia divisi tidak terampil
mengomunikasikan kepada bawahannya. Padahal, filosofi logo sebuah perusahaan
dapat menjadi obor kekompakan (teamwork) bagi seluruh anggota organisasi
setelah memahami tujuan, visi, dan misi yang diemban perusahaan. Struktur
organisasi PT Telkomsel Branch Ambon dijelaskan pada gambar 2. Setiap divisi
memiliki penyelia, staf, dan administrator masing-masing. Mereka memiliki
tugas, tanggung jawab, serta wewenang yang berbeda-beda sesuai dengan ketentuan
yang telah ditetapkan oleh pihak Telkomsel Regional Papua Maluku yang berlokasi
di Jayapura.
Gambar 1 Logo Telkomsel
Peran seluruh
penyelia yang berada pada tiap divisi harus dapat mentransfer nilai perusahaan
pada seluruh stafnya agar dapat menjaga kekompakan (teamwork) setiap divisinya.
Pace dan Faules (2006) mengusung strategistrategi untuk meningkatkan kinerja
bagi seluruh staf divisi yang tentunya tidak lepas dari peran penyelia sebagai
goal keeper bagi keefektifan komunikasi organisasi Divisi Broadband dan Digital
Sales PT Telkomsel Branch Ambon. Strategi tersebut di antaranya kepercayaan,
pembuatan keputusan bersama, kejujuran, keterbukaan terhadap komunikasi ke
bawah, dan mendengarkan dalam komunikasi ke atas. Ruang lingkup penelitian ini
dibatasi dengan hanya membahas model komunikasi penyelia pada para staf di
Divisi Broadband and Digital Sales PT Telkomsel Branch Ambon yang berlokasi di
kantor Telkomsel Branch Ambon, Jalan DR. JB. Sitanala No. 9A, Ambon, Indonesia.
Pembatasan
penelitian tersebut bertujuan agar penelitian ini fokus pada penggalian makna
pimpinan divisi (baca: penyelia) dalam mengomunikasikan kefektifan isi pesannya
pada staf divisi broadband and digital sales. Tangkilisan (2005) berpendapat
bahwa aset organisasi yang paling penting dan harus diperhatikan oleh manajemen
adalah manusia sebagai anggota dalam sebuah organisasi. Oleh sebab itu, fokus
pertanyaan penelitian ini adalah “Bagaimana model komunikasi organisasi
penyelia divisi broadband and digital sales dalam berkomunikasi dengan para
staf Divisi Broadband and Digital Sales di PT Telkomsel Ambon?”
METODE PENELITIAN
Penelitian ini
menggunakan metode penelitian studi kasus. Mulyana (2005: 201) menjelaskan
bahwa “Studi kasus adalah uraian dan penjelasan komprehensif mengenai berbagai
aspek seorang individu, suatu kelompok, suatu organisasi (komunitas), suatu
program atau suatu situasi sosial.” Peneliti studi kasus berupaya menelaah
sebanyak mungkin data mengenai subjek yang diteliti.
Gambar 2 Struktur
organisasi Telkomsel Branch Ambon
Sumber : Modifikasi
Peneliti dari Hasil Data Olahan Penelitian
Dengan
mempelajari semaksimal mungkin seorang individu, suatu kelompok, atau suatu
kejadian, peneliti dapat memberikan pandangan yang lengkap dan mendalam
mengenai subjek yang diteliti. Peneliti melakukan wawancara dengan penyelia divisi
broadband and digital sales yang bernama Victor Kwando. Selain itu, peneliti
juga melakukan observasi bersama para staf divisi broadband and digital sales
selama satu bulan, yaitu 1 Juni – 10 Juli 2015.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setiap
organisasi harus memiliki tujuan dengan cerminan sasaran serta target yang
dilakukan untuk jangka pendek dan jangka panjang. Tidak mungkin jika organisasi
hanya terdiri atas satu individu yang ingin mencapai tujuannya sendiri.
Organisasi yang terdiri atas kumpulan individu tersebut harus memiliki
keseragaman visi misi. Menurut Rogers dan Rogers (1976), organisasi
didefinisikan sebagai suatu kumpulan atau sistem individu yang bersama-sama
melalui suatu hierarki pangkat dan pembagian kerja untuk mencapai tujuan
tertentu. Tujuan tersebut dapat diperoleh bila para anggotanya berlaku sesuai
dengan peranan yang diharapkan oleh sistem organisasi tersebut. Penyelia divisi
broadband and digital sales dapat mengomunikasikan informasi tentang nilai
budaya organisasi PT Telkomsel dengan baik. Para staf divisi broadband and
digital sales bekerja dengan sistematis dan kompak dalam teamwork untuk
meningkatkan profit perusahaan. Penyelia membuka komunikasi transparan agar
atmosfer divisi broadband and digital sales dapat berjalan efektif.
Penyelia PT
Telkomsel Ambon menggunakan model komunikasi terbuka tentang budaya organisasi
yang berjalan selama ini. Menurut wawancara dengan Victor, The Telkomsel Way
adalah pengejawantahan dari filosofi untuk selalu memberikan yang terbaik
(always the best) dengan berpaku pada landasan nilai GREAT (integrity, respect,
enthusiasm, loyalty, dan totality). Spirit solid, speed, smart merupakan budaya
organisasi yang wajib diemban karyawan agar tercipta great people, great
strategy, great innovation bagi kesuksesan PT Telkomsel di seluruh Indonesia.
Nilai budaya organisasi The Telkomsel Way dapat dikomunikasikan dengan sangat
efektif oleh penyelia Divisi Broadband and Digital Sales PT Telkomsel Ambon
pada staf divisinya. Para staf dapat menginternalisasi nilai tersebut sebab
penyelia menggunakan komunikasi organisasi terbuka yang transparan. Mereka
akhirnya dapat memahami informasi yang dikomunikasikan penyelia tentang nilai
The Telkomsel Way dan mengintegrasikannya dalam job description mereka untuk
mendukung keberhasilan penyelia dalam divisi broadband and digital sales.
Tugas-tugas tersebut yaitu:
Analisis Daerah Operasional
1. Menentukan POI (Point of
Interest) tiap-tiap WOK.
2. Melakukan survei dan analisis
coverage & kualitas network.
3. Melaporkan jumlah channel
penjualan, termasuk RS, outlet telco, dan MDL.
4. Menentukan strategi penjualan
yang sesuai untuk setiap WOK.
Indirect
1. Melakukan back checking dan atau
tandem selling ke outlet, MDL, open TO, dan Mogi.
2. Menghadiri dan menyupervisi
briefing pagi di SBO.
3. Memberikan saran, motivasi, dan strategi
penjualan bundling, preload, dan VAS ke sales force.
4. Mendukung dan menyupervisi
performansi program sales broadband dan VAS.
5. Melakukan validasi outlet
register di branch Ambon.
6. Menyupervisi performansi
penjualan perdana bundling & preload dari outlet.
7. Menganalisis revenue, recharge,
CB recharge, dan SCN.
8. Menyusun dan mengawasi alokasi
budget program area.
9. Melakukan tes paket internet
Telkomsel.
Direct
1. Menentukan lokasi direct selling
produk Broadband dan VAS yang dilakukan oleh Mogi.
2. Menentukan jumlah Mogi yang
diperlukan setiap WOK.
3. Memberikan pengarahan dan edukasi kepada Mogi
mengenai produkproduk Broadband dan VAS.
4. Mengawasi kinerja direct selling
Mogi untuk penjualan Broadband dan VAS.
5. Menyusun dan mengawasi kerja sama dengan MDL
untuk menjual produk Broadband atau VAS yang di-bundling dengan device.
Event
1. Mengajukan RAB untuk event dan sponsorship.
2. Menyusun timeline event.
3. Menyupervisi performa event/sponsorship.
4. Mendesain promosi event/sponsorship.
5. Menyusun dan mengurus kontrak BAK (Berita Acara
Kesepakatan) dan PKS (Perjanjian Kerja Sama).
Pace dan Faules
(2006) menjelaskan bahwa pemahaman mengenai kecukupan informasi memberikan
petunjuk kepada para anggota organisasi mengenai aspek-aspek organisasi yang
merupakan salah satu bagian dari iklim komunikasi organisasi. Komunikasi adalah
sarana simbolis yang dipergunakan manusia untuk memahami serta memengaruhi
dunia sosial mereka (organisasi) melalui alur informasi. Manusia mengumpulkan
informasi mentah (raw information) dari lingkungan sosialnya, memproses data
informasi tersebut untuk dicerna, hingga menghasilkan pemahaman tentang beragamnya
fenomena organisasi dan beradaptasi pada segala kemungkinan yang terjadi.
Mereka membentuk pesan, bertukar, dan merespons pesan untuk menghasilkan
kesamaaan makna dalam dunia organisasi yang dinamis.
Supratman (2011)
mengatakan bahwa dengan pengaturan ini seorang pemimpin akan fokus pada
pengembangan individu sebagai anggota organisasi. Pengaruh tersebut akan
menumbuhkan pula perhatian dan pengembangan relasi di antara para bawahan.
Kondisi ini akan membuat karyawan menaruh rasa hormat kepada pemimpin. Melalui
manajemen kepemimpinan tersebut, feedback yang akan diterima oleh perusahaan
dari para karyawannya adalah pengabdian tulus, loyal, dan terus bekerja keras
memajukan perusahaan. Penyelia divisi berhasil mengelola komunikasi organisasi
yang baik dengan mentransparansikan informasi nilai The Telkomsel Way bagi
kesolidan anggota divisi. Bila penyelia tidak berhasil menyampaikan komunikasi
kepada para staf tentang nilai The Telkomsel Way, pencapaian tujuan visi misi
perusahaan tidak akan tercapai. Terpenuhinya informasi yang memadai (sebagai
proses penyaluran-pengumpulan-pengiriman-pemaknaan pesan) adalah sebuah
indikasi bagi para anggota organisasi untuk mengetahui sejauh mana tingkat
kepahaman kinerja mereka dalam sistem organisasi. Penyelia memegang tampuk
pionir tertinggi sebagai anutan bagi para bawahan dalam menyinergikan atmosfer
suatu organisasi untuk mencapai keselerasan spirit The Telkomsel Way.
Keselarasan
pemikiran penyelia dan staf divisi diperlukan agar keterbukaan komunikasi serta
kerja sama tercipta dalam visi misi organisasi. Perilaku komunikatif tersebut
berupa keinginan ‘tulus’’ mereka untuk menanyakan pertanyaan yang relevan dan
mendiskusikan maksud masing-masing anggota secara terbuka dan jujur. Selain
itu, Pace dan Faules (2006) juga mengusung strategi-strategi untuk meningkatkan
kinerja bagi seluruh anggota organisasi yang tentunya tidak lepas dari peran
atasan sebagai goal keeper efektivitas komunikasi berorganisasi.
1.
Kepercayaan
Personel
di semua tingkat harus berusaha keras untuk mengembangkan dan mempertahankan
hubungan yang di dalamnya terdapat kepercayaan, keyakinan , dan kredibilitas
yang didukung pernyataan dan tindakan.
2.
Pembuatan
keputusan bersama
Para
karyawan di semua tingkatan dalam organisasi harus diajak berkomunikasi dan
berkonsultasi mengenai semua masalah dalam semua wilayah kebijakan organisasi,
yang relevan dengan kedudukan mereka. Para pegawai di semua tingkat harus
diberi kesempatan berkomunikasi dan berkonsultasi dengan manajemen di atas
mereka agar berperan serta dalam proses pembuatan keputusan dan penentuan
tujuan. Akan tetapi, umumnya pimpinan mau memberikan informasi ke bawah bila
merasa bahwa pesan itu penting bagi penyelesaian tugas. Apabila suatu pesan
tidak relevan dengan tugas, pesan itu tetap dipegangnya.
3.
Kejujuran.
Suasana
umum yang diliputi kejujuran dan keterusterangan harus mewarnai
hubungan-hubungan dalam organisasi dan para pegawai mampu mengatakan ”apa yang
ada dalam pikiran mereka“ tanpa mengindahkan apakah mereka berbicara kepada
teman sejawat, bawahan, atau atasan.
4.
Keterbukaan
terhadap komunikasi ke bawah
Komunikasi
ke bawah menunjukkan arus pesan yang mengalir dari para atasan atau para
pemimpin kepada bawahannya. Komunikasi ke bawah bertujuan untuk mengubah sikap,
membentuk pendapat, mengurangi ketakutan dan kecurigaan yang timbul karena
salah informasi, mencegah kesalahpahaman yang disebabkan kurangnya informasi,
dan mempersiapkan anggota organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.
Gambar 3 Menggambarkan
keterhubungan antara ‘komunikasi, informasi serta organisasi (Sumber:
Kreps,1986)
5.
Mendengarkan
dalam komunikasi ke atas
Komunikasi
ke atas ini bertujuan untuk memberikan umpan balik, saran, dan mengajukan
pertanyaan. Komunikasi ini mempunyai efek pada penyempurnaan moral dan sikap
karyawan.
6.
Perhatian pada
tujuan-tujuan berkinerja tinggi
Personel
di semua tingkat dalam organisasi harus menunjukkan suatu komitmen terhadap
tujuan-tujuan berkinerja tinggi-produktivitas, kualitas tinggi, biaya rendah,
dan menunjukkan perhatian besar pada anggota organisasi lainnya.
Tujuan utama
peran seorang atasan sebagai pembina seluruh bawahannya telah berhasil
mempersatukan individu yang tergabung dalam organisasi tersebut. Dengan
pendekatan komunikasi transparan tidak berjarak, komunikasi organisasi dalam
lingkungan organisasi akan kondusif. Penyelia akan berkomunikasi efektif dalam
memberikan feedback positif terhadap bawahannya dan seluruh staf divisi
sehingga dapat menjalin hubungan saling menghargai dan men-dukung dengan rekan
kerja satu staf lainnya. Menarik untuk mengutip rahasia sukses Wiliam Somerset
Maugham (dalam Ho, 2006): “The common idea that success spoils people by making
them vain, egoistic, and self-complacent is erroneous; on the contrary, it
makes them, for the most part, humble, tolerant, and kind. Failure makes people
bitter and cruel.”
Maugham
menjabarkan kekeliruan mengenai suatu anggapan bahwa orang sukses akan bersikap
angkuh, egois, dan merasa paling benar. Padahal, pada kenyataan di lapangan,
sebagian besar di antara orang-orang yang telah berhasil meraih kesuksesan itu
semakin rendah hati, sangat menghargai orang lain, dan berbudi baik. Justru,
kegagalanlah yang menyebabkan seseorang menjadi bengis dan kejam. Jadi, saat
bawahan mengalami kegagalan, seyogianya atasan merangkul bawahan tersebut.
Sebagai seorang top executive yang sukses, tak ada salahnya mengutip Maugham
untuk diaplikasikan pada seluruh bawahannya. Dengan memiliki sifat rendah hati,
saling menghargai orang lain, dan berbudi baik dalam interaksi antara anggota
organisasi, kesuksesan bersama pada kemajuan perusahaan pun akan dengan mudah
tercapai. Selain itu, hal tersebut sangat relevan bagi pembentukan karakter
seluruh anggota organisasi untuk saling membantu dan mengingatkan kesalahan.
SIMPULAN
Keserasian
hubungan penyelia dan staf di divisi broadband and digital sales sangat kental
terasa dalam mengembangkan relasi organisasional mereka yang menjunjung nilai
The Telkomsel Way bagi setiap anggota. Penyelia divisi broadband and digital
sales membentuk keterbukaan komunikasi dalam struktur formal dan informal
keorganisasian. Keterbukaan ini membuahkan kepercayaan bagi keefektifan
komunikasi organisasi dalam meminimalkan kesalahpahaman di antara semua anggota
staf divisi. Iklim keterbukaan dan konsep transparansi dalam komunikasi
organisasi akan terealisasi saat penyelia bersikap demokratis terhadap para
staf. Penyelia Telkomsel selalu berusaha membentuk keterbukaan komunikasi dalam
struktur formal dan informal keorganisasian agar para staf dalam divisinya
dapat memberikan kinerja teamwork terbaik untuk PT Telkomsel Branch Ambon.
Nilai The Telkomsel Way dapat menjadi semangat serta motivasi hidup agar
realisasi nilai The Telkomsel Way dapat memajukan PT Telkomsel Branch Ambon.
Atmosfer untu saling mendukung dalam teamwork akan mendorong anggota staf satu
sama lain untuk saling membantu demi keberhasilan organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Ho, Andrew dan Aa Gym. (2006). The
Power of Network Marketing: Hikmah Silaturahmi dalam Bisnis. Bandung: MQS
Publishing.
Kreps, Gary L. (1986).
Organizational Communication. New York: Longman Inc.
Mulyana, Deddy. (2005). Metode
Penelitian Komunikasi: Contohcontoh Penelitian Kualitatif Dengan Pendekatan
Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Pace, R. Wayne dan Don F. Faules.
(2006). Komunikasi Organisasi: Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Rogers, E., and R. Agarwala-Rogers.
(1976). Communication in Organizations. New York: Free Press.
Supratman, Lucy Pujasari. (2011).
Komunikasi Terbuka Pimpinan bagi Efektifitas Kinerja Komunikasi Organisasi.
Ragam Komunika Vol 5 No1.
www.telkomsel.ac.id. Diakses pada
tanggal 1 September 2015 pukul 1:48.
REVIEW
Menurut kami, cara berkomunikasi
yang dilakukan oleh pemimpin PT Telkomsel Ambon kepada para staf/karyawan sudah
baik. Pemimpin PT Telkomsel Ambon menggunakan model komunikasi terbuka tentang
budaya organisasi yang berjalan selama ini. Pemimpin PT Telkomsel Ambon juga
membentuk keterbukaan komunikasi dalam struktur formal atau informal keorganisasian.
Keterbukaan ini membuahkan kepercayaan bagi keefektifan komunikasi organisasi
dalam meminimalkan kesalahpahaman di antara semua anggota staf divisi. Dan pemimpin
divisi telah berhasil mengelola komunikasi organisasi yang baik dengan
mentransparansikan informasi nilai The Telkomsel Way bagi kesolidan anggota
divisi. Seperti yang ada pada jurnal diatas, tujuan utama peran seorang atasan
sebagai pembina seluruh bawahannya telah berhasil mempersatukan individu yang
tergabung dalam organisasi tersebut. Dengan pendekatan komunikasi transparan
tidak berjarak, komunikasi organisasi dalam lingkungan organisasi akan
kondusif. Pemimpin akan berkomunikasi efektif dalam memberikan feedback positif
terhadap bawahannya dan seluruh staf divisi sehingga dapat menjalin hubungan
saling menghargai dan men-dukung dengan rekan kerja satu staf lainnya.
Sumber Jurnal:
https://www.researchgate.net/publication/315480442_STUDI_KASUS_TENTANG_MODEL_KOMUNIKASI_ORGANISASI_PENYELIA_DALAM_MEMBANGUN_TEAMWORK_DI_DIVISI_BROADBAND_DIGITAL_SALES_PT_TELKOMSEL_BRANCH_AMBON_INDONESIA



Tidak ada komentar:
Posting Komentar